TERNATE, CN – Kegiatan tersebut merupakan bentuk Polri Peduli Penghijauan Pantai dan Penguatan Ekonomi Masyarakat Pesisir khususnya di Pesisir Provinsi Malut.
Kapolda Maluku Utara (Malut) Brigjen Pol. Drs. Rikwanto, S.H., M.Hum bersama Pejabat Utama Polda Malut, Kapolres Tidore dan segenap unsur Pemerintahan Kota Tidore Kepulauan melaksanakan Penanaman Pohon Mangrove, bertempat di Kelurahan Maftutu, Kecamatan Tidore Timur Kota Tidore Kepulauan. Jumat, (21/02/2020).
Dalam sambutannya Kapolda Malut mengatakan, hari ini akan melaksanakan penanaman pohon mangrove sebanyak 2.500 pohon di Mafturu yang juga dilaksanakan serentak di 12 Markas Unit Dit Polairud Polda Malut sebanyak 7.500 pohon, dengan jumlah keseluruhan pohon yang ditanam sebanyak 10.000 pohon.
“Semoga kegiatan ini dapat bermanfaat untuk kita semua, serta menjadi amal baik yang bernilai pahala,” Ucap Kapolda Malut
Sebelum mengakhiri sambutannya, Kapolda memberikan pesan untuk sama-sama menjaga dan memelihara pohon yang telah tertanam sehingga dapat bermanfaat bagi kehidupan serta sosialisasikan pentingnya pelestarian hutan dan lingkungan. (Red)
Kampus merupakan salah satu lembaga atau media Pembelajaran, dimana kaum akademisi menjadi seseorang yang nantinya mampu membebaskan diri utuk lebih mempertajamkan Epstemologi yang radikal, Pendidikan menjadi penting untuk menarik animo semua kalangan dari manapun,( dari golongan kaya dan miskin). Sebab, dengan pendidikan orang dapat memahami serta merumuskan sesuatu yang ia ketahui bahkan bersentuhan langsung degan dirinya dan masyarakat. Dengan demikian tidaklah etis kalau kampus dijadikan alat ekspolitasi maka dengan sendirinya menghilangkan budayah intelektualitas dan berubah menjadi wadah untuk meraup keuntungan oleh pihak kampus. kalau sudah begini maka hilanglah Roh Fastabbikul khairatnya, Apalagi kampus swasta yang bernuansa Islam sudah barang tentu orang-orangnya memahami mana baik dan buruk, ayat dan hadits sudah tersimpan di memori kepala masa bisa lupa?.
Eksplotasi Pihak kampus terhadap mahasiswa. Sumber pendapatan terbesar kampus terletak pada mahasiswanya yang melakukan registrasi mahal , apa lagi kampus yang berstatus swasta, jadi ibarat kampus adalah sebuah pohon maka mahasiswa adalah akarnya, sumber air adalah biaya registrasi, Jadi kalau mau pohon itu dia tumbuh semakin besar dan berbuah, maka akar itu membutuhkan air yang banyak. Sudah menjadi rahasia umum kalau biaya pendidikan di kampus meroket , walaupun demikian mau tidak mau, suka tidak suka terpaksa harus menerimanya.
Dari sinilah pihak kampus mulai memaikan peranannya, sebagai distributor pendidikan dilingkugan kampus, dimana kampus dijadikan alat untuk mengekspolitasi demi kepentingannya.
Objek utamanya adalah mahasiswa yang menjadi korban dan sebagian dosen yang tidak ikut terlibat dalam pratek ini, karna Dosen ada MK ( Mata Kuliahnya di ekspolitasi) , mahasiswa yang lanjut sampai semester akhir bahkan yang sudah luluspun korban. Sehingga proses ekspolitasi ini berjalan terus tanpa lampu merah melalui regulasi yang dibuat oleh pihak kampus seakan membuat para mahasiswa merasa bahwa aturan ini harus dijalankan kalau masih mau kuliah, seolah ini adalah sebuah tekanan, kondisi seperti ini membuat mahasiswa kehilangan jati dirinya sebagai seorang intelektual yang mampu berpikir secara kritis sehingga mereka malah lebih menikmati ketertindasan dari pada bangkit untuk melawan, karna dalam pikiran mereka biaya kuliah mahal lebih baik kita cepat cepat wisudah dan setelah itu kita mencari pekerjaan, Mereka memproyeksi diri mereka untuk mendapat pekerjaan dimasa depan nanti setelah lulus kuliah, akhirnya mereka Lupa bahwa pendidikan seharusnya menjadi hak mereka malah terbalik dijadikan alat untuk mengekspolitasi.
Di kampus ada pemerannya ada yang jadi prompok dan ada yang jadi jagoan, ada yang jadi prampok tapi mengunakan stategi yang halus , yaitu:
Mengekspolitasi biaya registrasi mahasiswa sampai wisudah.
Proposal/Skripsi Mahasiswa dibuat oleh pihak kampus dengan syarat permahasiswa harus bayar tiga juta.
Jadwal mata kuliah untuk sebagian dosen sudah di ekspolitasi.
Pembohongan Pihak Kampus terhadap mahasiswa soal Ijazah dan Akriditas.
Apalagi status kampus dan jurusan yang belum terakreditasi maka rugilah mahasiswa selama kuliah empat Tahun tanpa memiliki Ijazah, dari pihak kampus dengan alasan ketika ditanya oleh mahasiswa tentang Ijazah dan akreditas bahwa Ijazah dan akreditas itu soal belakang yang terpenting wisudah dulu, apakah dengan alasan ini bisa diterimah oleh kalangan yang memliki akal sehat,? Kecuali orang yang berpikiran dungu yang bisa menerima.
Kalau kondisi kampusnya seperti ini karna gagal dikelolah oleh orang yang tidak bertanggung jawab lebih baik ditutup saja seperti nasib sebelas (11) kampus swasta di Jakarta tutup karena gagal kelolah dari pada merugikan mahasiswa dan masyarakat., apalagi minimnya mahasiswa, pengelolaanya bersifat konvesional dan sebagian dosen ada yang undur diri karna kecewa terhadap pihak kampus yang salah kelolah.
Maka oleh sebab Kampus bukan alat untuk diekspolitasi.
Subulussalam, CN – Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Subulussalam kerjasama dengan Balai Besar Pengembangan SDM dan Panilitia Kominfo Medan dilaksanakan di gedung LPSE Sekdako Kota Subulussalam, Kamis (20/2/2020).
Penandatanganan kerja sama dilakukan oleh Wakil Walikota Subulussalam Drs.Salmaza.Map dihadiri seluruh muspika se Kota Subulussalam. Dalam sambutan Kepala Dinas Komunikasi dan Imformatika Kota Subulussalam Baginda Nasution,SH.MM, menyampaikan kepada seluruh Kepala SKPK dan Kepala Desa Sekota Subulussalam akan meliput kegiatan demi kemajuan Kota Subulussalam yang kita cintai dan banggakan ini. Keterbukaan publik dalam waktu dekat ini akan meluangkan waktu ke Jakarta untuk menjumpai Menteri Kominfo.
Baginda selaku kepala Dinas Komunikasi sangat berterimakasih kepada bpk. Prof. Drs. Henri Subiakto.SH.MH sebagai staf ahli Kementerian Kominfo Bidang Hukum atas kehadirannya di kota Subulussalam
Wakil Walikota Subulussalam juga menyampaikan dalam sambutannya tentang pentingnya Implementasi pemaparan tentang terkait dengan UU KIP dan UU ITE yang mana zaman sekarang ini sudah canggih menggunakan medsos, sehingga banyak orang salah gunakan dan tidak mengerti dan sesuka hati mengoceh di medsos sehingga berdampak masuk penjara, dan ada juga yang menggunakan medsos ini sebagai alat kerja yang dapat menghasilkan uang,tergantung cara menggunakannya.
“Zaman sekarang sudah jaman modern, sudah Era digital, maka berhati hatilah bermain medsos, jangan asal komentar pikirkan dulu mateng mateng dan jangan asal berbicara yang tidak tidak nanti bisa kena UU ITE nantinya, jadi bukan tak boleh menggunakan medsos boleh tapi gunakan untuk yang bermanfaat sajalah. Saya sangat mengapresiasi kinerja Kadis Kominfo Subulussalam Pak Baginda Nasution ini yang sudah menghadirkan staf ahli Kementerian Kominfo bidang hukum, Prof.Drs.Heri Subiakto.SH.MH Tentu saja nanti kita bisa diberikan ilmu yang bermanfaat di bidang UU KIP dan UU ITE,” ujar Wakil Walikota Subulussalam.(Mh/CN)
HALSEL, CN – Saat kunjungan ke Desa Marikapal Kecamatan Kasiruta Barat, Kamis (20/02/2020). Wakil Bupati Halmahera Selatan Iswan Hasjim mengapresiasi semangat dan kepandaian seluruh anak SD Negeri 229 Halmahera Selatan yang mampu membaca, menghitung, dan menulis.
Siswa SD yang masih duduk dibangku kelas I (satu) membuat kejutan buat orang nomor dua di halmahera selatan ini. Bagaimana tidak ? Iswan dibuat terpukau saat seluruh siswa kelas I dicoba membaca dan menghitung dan seluruhnya mampu melakukannya dengan lancar. Bukan satu atau dua kata yang dibaca, akan tetapi kalimat yang begitu panjang pun mampu dibaca dengan lancar oleh seluruh siswa kelas I SDN 229 Halsel. Tidak sampai disitu saja, pada saat dicoba dengan hitungan, seluruh siswa mampu menjawab dengan cepat tanpa tersendat-sendat. Yang membuat Wabup terperangah lagi, adalah mereka sudah mampu menghafal perkalian, padahal masih kelas I SD.
Menurutnya, ini adalah salah satu prestasi yang sangat membanggakan bagi SDN 229 Halsel. Tidak semua sekolah yang dikunjunginya memiliki siswa yang dengan lancar membaca dan menghitung, apalagi siswa yang masih duduk dikelas I.
” Mereka sangat hebat, masih kecil namun sudah pintar ” Ujarnya
Iswan memberikan apresiasi kepada Kepala Sekolah SD Negeri 229 Halsel Muntaha Said yang juga sekaligus menjadi guru yang mengajar.
“Bapak layak mendapatkan penghargaan, terima kasih pak telah menjadi bagian dari masa depan anak – anak Desa Marikapal ini, terima kasih telah membuat mereka menjadi siswa yang pandai. Semoga Allah membalas jasa – jasa bapak,” Ucap Iswan dengan nada haru.
“Saya akan secepatnya perintahkan dinas terkait agar segera melakukan penambahan beberapa guru untuk SDN 299 Halmahera Selatan, Desa Marikapal,” Ucapnya. (Bur)
HALSEL, CN – Sempat viral di media sosial terkait pemalangan sekolah di Desa Lelei Kecamatan Kayoa baru- baru ini membuat Wakil Bupati (Wabup) Halmahera Selatan (Halsel) Iswan Hasjim harus turun tangan, guna menyelesaikan persoalan tersebut. Bukan hanya satu sekolah yang di palang warga, akan tetapi tiga sekolah sekaligus. Yaitu, SDN 190 Halsel, SMPN 27 Halsel, dan SMAN 18 Halsel. Ketiga sekolah tersebut mempunyai persoalan yang berbeda – beda sehingga harus dipalang oleh warga setempat.
Iswan Hasjim tiba di Desa Lelei pada Hari Selasa 18 Februari 2020 pukul 09:00 WIT. Setibanya, Wabup langsung memerintahkan Perangkat Desa Lelei mengumpulkan pihak sekolah dan seluruh warga Lelei guna melakukan pertemuan di Kantor Desa.
Pertemuan tersebut dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Halmahera Selatan Iswan Hasjim dan dihadiri oleh Perangkat Desa Lelei, Tokoh Agama, Tokoh Pemuda, Kepala Sekolah dan para guru SD, SMP, SMA Lelei, serta warga Desa.
Wabup mempersilahkan kepada warga terlebih dahulu menyampaikan akar permasalahannya sehingga sekolah dipalang. Hayati, salah satu warga yang juga istri dari penjaga sekolah di SDN 190 Halsel tersebut menuturkan satu per satu pokok permasalahannya.
Untuk Sekolah Dasar (SD), pertama Ia menyebutkan bahwa kepala sekolah meninggalkan tugas hingga 6 bulan lamanya. Kedua, kepala sekolah tidak transparan mengenai dan Bantuan Siswa Miskin (BSM), dan yang ketiga, kepala sekolah terlambat membagikan ijazah untuk para siswa selama 6 bulan.
Untuk SMP, warga tidak mau ada pergantian kepala sekolah, mereka menginginkan kepala sekolah yang lama.
Kemudian untuk SMA, Kepala sekolahnya sering meninggal sekolah serta tidak transparan mengenai Dana BSM dan Iuran Partisipasi siswa.
Setelah mendengarkan seluruh paparan permasalahan dari perwakilan warga, Wabup sangat menyesalkan tindakan pemalangan sekolah di Desa Lelei tersebut. Menurutnya masalah seperti ini harusnya tidak terjadi, perkara tersebut dapat diselesaikan dengan duduk bersama tanpa harus mengorbankan masa depan anak – anak.
“Sekarang kalau sekolah ditutup, siapa yang korban ? Apakah kepala sekolah ?, ataukah para guru – guru ?, bukan ! yang korban dan rugi adalah anak-anak kita semua yang harus dan wajib mendapatkan pendidikan yang layak” Tegas Iswan.
Iswan menegaskan bahwa, masalah ini bukan lagi kalian berurusan dengan Pemerintah Daerah akan tetapi kalian sudah berurusan dengan negara. Kalian secara tidak langsung telah melanggar undang – undang.
“Saya tegaskan, apapun yang terjadi, mulai besok sekolah harus tetap terbuka dan proses belajar mengajar tetap berjalan, mengenai masalah – masalah tersebut kita selesaikan dalam pertemuan ini, pokoknya besok sekolah harus dibuka kembali,” Tegasnya lagi
Wabup mengajak seluruh masyarakat agar setiap masalah sekecil apapun yang muncul di Desa Lelei dapat diselesaikan dengan duduk bersama Tokoh Agama, para Imam, dan perangkat desa guna mencari solusinya. Dengan begitu akan tidak ada lagi yang dikorbankan, kita semua akan menjadikan desa ini sebagai desa yang damai tanpa ada pertikaian lagi.
Akhir pertemuam, seluruh warga Desa Lelei sepakat mau membuka kembali palang sekolah demi keberlangsungan masa depan anak-anak Desa Lelei kedepan.
“Terima kasih Pak Wakil sudah mau datang ke desa kami, sudah mau peduli kepada kami, Alhamdulillah berkat keberadaan Pak Wakil disini membuat sekolah kembali dibuka,” Ucap salah satu warga Lelei sambil memeluk Wabup. (Red)
HALSEL, CN – Sikap tak terpuji di tunjukan oleh adik sepupuh Bupati Halmahera Selatan (Halsel) Bahrain kasuba, Mahfud Kasuba yang di ketahui masih tercatat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) pada SMA Alkhairat Bibinoi Kecamatan Bacan Timur Tengah Kabupaten Halsel, meski bersatatus sebagai ASN namun yang bersangkutan selama 9 Tahun tidak pernah menjalankan tugas pokoknya sebagai ASN di kabupaten Halsel.
Mahfud Kasuba di ketahui tidak menjalankan tugas sebagai ASN sejak Tahun 2012 hingga Tahun 2019, Mahfud Kasuba juga sebelumnya di ketahui bertugas pada SMA Alkairat Labuha pada Tahun 2012 setelah itu yang bersangkutan di mutasikan ke SMA Alkhairat Labuha namun di ketahui tidak pernah menjalankan bertugas sebagai tenaga pengajar pada SMA Alkhairat Bibinoi Kecamatan Bacan Timur Kabupaten Halsel.
Meski tidak menjalankan tugas sebagai ASN di lingkup Pemda Halsel, namun Mahfud Kasuba di ketahui tetap mengambil gaji pokok sebagai haknya pada guru SMA Alkhairat Labuha selama 9 Tahun. Olehnya itu, Bupati Halsel Bahrain Kasuba di Desak Pecat Mahfud Kasuba dari statusnya sebagai ASN di Halsel, jika Bupati tidak melakukan pemecatan yang bersangkutan dari ASN, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Front Delik Anti Korupsi (FDAK) mengancam melaporkan Mahfud Kasuba ke BKN pusat.
Desakan ini di sampaikan oleh Ketua Devisi Infestigasi LSM Front Delik Anti Korupsi (FDAK) Kabupaten Halmahera Selatan, Idhar, kepada cerminnusantara.co.id melalui saluran telponnya mendesak Bupati Halsel Bahrain Kasuba segera memecat Mahfud Kasuba dari satatus ASN karena yang bersangkutan diketahui selama 9 Tahun tidak pernah menjalankan tugas sebagai ASN di Kabupaten Halsel.
Sementara itu Mahfud Kasuba, saat di konfirmasi wartawan melalui saluran Teleponnya, (19/02/2020) nomor Hendphone nya tidak aktif. (Red)