Peringati HUT RI Ke-75 Tahun, TNI-Polri Maluku Utara Bagikan Bantuan Kepada Warga

TERNATE, CN – Dalam rangka memperingati HUT Republik Indonesia Ke-75 Tahun 2020, Polda Maluku Utara menggandeng TNI dari Korem 152/Babullah dan Lanal Ternate, melaksanakan Bakti Sosial serentak yang bertempat di Lapangan Polda Maluku Utara.

Kapolda Maluku Utara Irjen Pol. Drs. Rikwanto, S.H., M.Hum yang didampingi Danrem 152/Babullah Brigjen TNI Imam Sampurno Setiawan dan Danlanal Ternate Letnan Kolonel Laut (P) Komaruddin melepas secara langsung pasukan Kemanusiaan dalam rangka mendistribusikan Bantuan Sosial kepada masyarakat yang membutuhkan di tengah Pandemi Covid-19 yang cukup menganggu tatanan sosial dan ekonomi khususnya di wilayah Maluku Utara, Rabu (19/08).

Adapun jumlah bantuan yang didistribusikan kali ini sebanyak 1.200 Paket yang di bagikan oleh Polda Dan Polres Jajaran, untuk Polda Malut dibagikan oleh 40 Personel TNI, dan 160 Personel Polri.

Kapolda Maluku Utara Irjen Pol. Rikwanto, menyampaikan bahwa bantuan ini merupakan bantuan dari Kapolri yang didistribusikan kepada Jajaran Polda untuk di bagikan kepada Masyarakat yang membutuhkan di tengah Pandemi Covid-19.

“Dengan Adanya bantuan ini diharapkan masyarakat yang terdampak Covid-19 dapat merasakan bahwa Negara hadir, Pemerintah hadir ditengah-tengah mereka, serta bantuan yang kita berikan ini dapat diterima dan bermanfaat serta yang kita lakukan di Ridhoi oleh Allah SWT Aamiin,” Ucap Kapolda.

Sementara itu Danrem 152/Babullah menyampaikan ucapan terimakasih kepada Polda Maluku Utara yang telah melibatkan TNI dalam pemberian Baksos kepada masyarakat Terdampak Covid-19 dalam rangka memperingati HUT RI ke 75.

“Hari ini kita laksanakan kegiatan baksos bersama-sama dan insyaallah dalam pendistribusianya tepat sasaran kepada mereka yang membutuhkan dan mudah-mudahan apa yang kita kerjakan kali ini mendapat pahala yang berlimpah dari Allah SWT, serta kedepanya TNI-Polri semakin solid dalam menciptakan Keamanan di Wilayah Maluku Utara ini,” Tutup Danrem. (Ridal CN)

Dulu Merdeka Kini Berduka

Oleh: Ummulkhairy M Dun
Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam
Anggota Generasi Baru Indonesia (GenBI)
Mahasiswa IAIN Ternate

Secara asasi, Indonesia adalah kumpulan bangsa dengan beragam budaya yang dipertegas dalam bingkai Nusantara. Dahulu, Indonesia bukanlah negara seperti sekarang ini. Pasalnya, Indonesia hanyalah wilayah dengan bentuk kepulauan yang menjadi rebutan para bangsa asing. Tidak merdeka menjadikan Nusantara Indonesia tersebut dibawa arus jajahan bangsa kuat saat itu.

Spanyol, Inggris, Jepang dan Belanda adalah negara yang berhasil menggunakan powernya dalam merebut pulau dengan nama Indonesia itu. Dinamika perebutan Nusantara ini semakin menjadi polemik dan menyiksa para penghuni negeri kepulauan Indonesia. Sistem tatanan kehidupan yang berasaskan diskriminasi sering dilekatkan pada mereka yang bergelar pribumi.

Pribumi kerap kali disapa bagi mereka yang merupakan penduduk Indonesia. Layaknya negara pada umumnya yang dijajah oleh bangsa lain, mereka pun turut merasakan ketidaknyamanan hidup dalam genggaman bangsa lain.

Klimaks dari penjajahan di bumi Nusantara ini adalah kekejaman dari pihak Belanda yang merampas secara paksa hak-hak para pribumi. Kenaifan penduduk Indonesia pun dimanfaatkan oleh bangsa Belanda hingga Indonesia yang pada mulanya bukan negara pemerintahan akhirnya dibuat pemerintahan dengan berkiblat pada “Negeri Kincir angin” tersebut.

Tidak membutuhkan waktu yang cepat untuk keluar dari kehidupan di bawah ketiak bangsa Belanda, masyarakat Indonesia mulai sadar dan berani mengambil sikap untuk melawan para penjajah.

Kenaifan pribumi pun mengalami revolusi kehidupan, pasalnya kecintaan mereka terhadap tanah air mengharuskan mereka untuk melawan dan merebut tanah serta hak kehidupan yang telah dirampas oleh para bangsa asing.

Melawan dan membangkan adalah solusi yang sangat solutif dalam memerdekakan diri dan tanah air atas jajahan bangsa asing. Perlawanan masyarakat pribumi dilakukan secara bertahap di seluruh daerah yang ada di Indonesia dengan menggunakan peralatan berbasis local wisdom yakni senjata ‘Bambu Runcing.

Dengan persatuan, kerja sama dan atas kekuatan spiritual yang baik, akhirnya kepulauan yang bernamakan Indonesia itu bebas dari kekuasaan bangsa asing. Segala bentuk kehidupan oleh bangsa asing tidak dipraktekkan lagi di negeri ini.

Segala tatanan kehidupan pun diatur dan dibijaki secara mandiri oleh masyarakat Indonesia yang dinahkodai oleh kedua bapak proklamator yaitu Soekarno-Hatta. Atas dasar inilah sehingga ‘Tujuh Belas Agustus Seribu Sembilan Ratus Empat Puluh Lima’ menjadi saksi bisu kemerdekaan negeri kepulauan ini.

Kebahagiaan dan semangat baru terlihat jelas dalam literatur sejarah negeri ini dengan bukti eksistensi Indonesia sebagai negara yang masih dijumpai hingga sekarang. Dalam tatanan kehidupan, Indonesia telah berhasil memenuhi syarat untuk dinyatakan sebagai negara.

Sebagaimana yang telah dikampanyekan bahwa setiap tanggal 17 Agustus adalah peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya yang memiliki tanggal 17 Agustus, kini tahun 2020 pun masih memberikan kesempatan kepada bangsa Indonesia untuk merasakan tanggal stimewa tersebut.

Dalam hitungan waktu dekat ini, 17 Agustus akan kita jumpai. Pertanyaannya, 17 Agustus Tahun ini masihkah kita merdeka?. Dalam paparan di atas tentu telah dipahami bahwa yang dimaksud merdeka adalah keberhasilan bangsa Indonesia dalam melangsungkan kehidupan yang mandiri dan terbebas dari campur tangan bangsa asing.

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia sudah sepantasnya kita mengikuti dan mengambil peran dalam kehidupan bernegara di Indonesia. Dulu, kita berhasil merdeka karena adanya persatuan. Itulah sebabnya, dalam dasar negara Indonesia telah dicantumkan “Persatuan Indonesia” sebagai jati diri bangsa Indonesia.

Semangat nasionalisme dan cinta tanah air saat ini hanya berkedudukan sebagai slogan dalam setiap panggung sosialisasi. Bagaimana tidak? Kita masih disibuki dengan persoalan yang bersifat teoritik sementara yang dibutuhkan Indonesia adalah praktik dan pengamalana atas nilai nasionalisme yang sering didengungkan.
Hal miris lainnya adalah di tengah refleksi hari kemerdekaan Indonesia yang tepat berusia 75 tahun ini generasi muda Indonesia jauh dari kata berilmu dan beradab. Secara IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) Indonesia belum mampu berdiri sendiri dan memperkenalkan kehebatannya dalam bidang ini.

Lagi dan lagi bangsa asing masih menjadi kiblat dari negeri ini. kemunduran IPTEK dipengaruhi oleh keadaan pendidikan yang tidak lagi kondusif. Dengan keadaan di tengah pandemi seperti sekarang, pendidikan Indonesia sedang dilanda duka yang sangat mendalam. Sebab secara mental pendidikan Indonesia tidak siap diperhadapkan dengan masalah Covid-19.

Pendidikan yang semakin mundur berakibat pada peradaban di Indonesia. “Kemanusiaan yang adil dan beradab” yang dicita-citakan oleh para founding father saat ini hanya berupa kata-kata. Adab yang dimiliki para generasi penerus bangsa ini telah jauh dari nilai-nilai pancasila. Hal ini berangkat dari arus globalisasi yang tidak dapat dibendung. di negeri ini.

Jika dulu para pendahulu bangsa ini dengan gagah dan berani menyatakan sikap merdeka dan mengusir para penjajah, berbeda dengan keadaan saat ini. Pasalnya beberapa dekade terakhir ini Indonesia dapat diasumsikan sebagai negara yang tidak lagi mandiri.

Kemandirian Indonesia sebagai bangsa dibumihanguskan oleh anak bangsanya sendiri. Hal ini terlihat jelas dengan adanya kecenderungan bangsa ini dalam menarik kuat bangsa asing untuk mengatur kehidupan di Indonesia.

Kekayaan alam yang dimiliki Indonesia kini pun dirampas secara cantik oleh mereka yang bukan berkebangsaan Indonesia. Kehidupan melarat tanpa kebahagaiaan dan keadilan dipantaskan kepada mereka yang menetap di Indonesia.

Sampai disini dapat dipahami bahwa merdeka tidak lagi dirasakan oleh kita yang bernamakan bangsa Indonesia. Kemerdekaan hanyalah simbol sebatas kata yang jauh dari realitas kehidupan di negeri ini.

Tidak pantas untuk menyalahkan mereka yang bertugas, sebab dari diri masing-masing bangsawan di kepulauan ini belum menanamkan nilai-nilai yang termaktub dalam pancasila. Bahkan ada yang berniat untuk merubahnya. Itulah kenapa saat ini kita sedang dijajah oleh bangsawan dari negeri ini.

Sejumlah persiapan yang dilakukan mereka dari negeri ini dalam menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia sekarang adalah ilusi belaka. Sebab bangsa ini belum sepenuhnya merdeka. Indikator di atas menunjukkan sejumlah bidang dalam kehidupan di negeri ini masih diatur oleh mereka yang bergelar ‘kacung’.
Oleh karena itu keadaan Indonesia kini sedang dalam keadaan yang tidak baik. Indonesia tidak butuh bendera yang sering dikobarkan atau pajangan umbul-umbul merah putih pada setiap tempat menjelang hari kemerdekaannya. Tetapi yang dibutuhkan Indonesia adalah meNusantarakan Indonesia dalam diri setiap rakyat Indonesia.

Dengan demikian Dulu pernah merdeka dan kini sedang berduka. Duka bangsa adalah kesalahan mereka yang meninggalkan pancasila sebagai jati diri bangsa Indonesia. Dari Indonesia yang berduka, Untuk Indonesia yang merdeka.

Aswin Adam dan 3 Rekannya Hilang di Perairan Papua Barat Dicuekin Pemda Halsel

HALSEL, CN – Warga Desa Dowora Kecamatan Gane Barat Kabupaten
Halmahera Selatan (Halsel) menyayangkan sikap Pemerintah Kabupaten yang cuek terhadap korban hilangnya Anak Buah Kapal (ABK) KM. Wandi Jaya 01, di Perairan Laut Fakfak Provinsi Papua Barat pada Tanggal 27 Juli 2020 lalu.

Adapun Crew KM. Wandi Jaya 01 yang hilang, yakni Risno Suhud (28), Andri Munir (25), Gurdan Abubakar (25), Aswin Adam (28), Abit (27).

Diketahui 5 ABK KM. Wandi Jaya 01 yang hilang di Perairan Laut Fakfak Papua Barat tersebut, 4 diantaranya warga dari Desa Dowora Kecamatan Gane Barat, dan hingga saat ini sudah 22 hari hilang dan para korban belum juga di temukan.

Saat Awak Media Cerminnusantara.co.id, mengkonfirmasi Kepala Desa Dowora Eli Saleh, Rabu (19/0l8/2020), Eli Saleh menyampaikan bahwa pihaknya suda melakukan koordinasi dengan SAR Kota Sorong terkait pencarian korban yang hilang, namun sampai saat ini belum juga di temukan maka pencarian pun di hentikan.

Eli Saleh pun mengungkapkan bahwa ia sempat melakukan koordinasi dengan pihak Inspektorat terkait pencarian para korban dengan menggunakan anggaran Dana Desa.

Namun kata Eli Saleh, bahwa Pihak Inspektorata Halsel menyampaikan, silahkan koordinasi dengan Kepala BPBD Halsel Daud Jubaedi, tapi kalau pun Pemerintah Daerah beralasan tidak punya anggaran untuk membantu oprasional, maka silahkan gunakakan Anggaran Desa dulu.

“Setidaknya Pemerintah Kabupaten tidak harus lepas tangan. Sebab, para ABK yang hilang merupakan warga Halmahera Selatan,” Sesalnya.

Sementara ini saat di tanyakan keberadaannya, Eli Saleh mengatakan bahwa ia masih berada di Kota Sorong untuk memastikan keberadaan ke 4 warga Dowora yang hilang. (Red/CN)

Bendahara Gunung Lagan Diduga Potong Gaji Perangkat Desa 14%

Aceh Singkil, CN – Berisik informasi di Desa Gunung Lagan Kecamatan Gunung Meriah tentang adanya dugaan pemotongan gaji Perangkat Desa 14% berjalan selama 4 Tahun atau sampai saat ini.

Sesuai dengan hasil investigasi media ini menyelusuri informasi, dugaan pungli honor Perangkat Desa tersebut pada Tanggal 12 Agustus 2020.

Arifin selaku Ketua Badan Permusyawaratan Gampong (BPG) saat di temui menyatakan, hal tersebut di luar Tahun kerjanya karena dirinya baru saja di lantik jadi Ketua BPKam di Tahun 2020 ini, imformasi tersebut sudah di selusuri beberapa Perangkat Desa Gunung Lagan salah satu seperti pemimpin Sarak atau pengurus Mesjid pernah menyatakan ada pemotongan honor 14% dan sudah pernah komplin agar di stopkan pemotongan honor tersebut. Namun tidak di indahkan.

“Tapi, ini akan saya selusuri siapa dalang pungli tersebut,” ungkapnya pada (17/8/2020).

Salah satu Perangkat Desa IM ketika di konfirmasi lewat via handphonnya pada (14/8) membenarkan bahwa tentang informasi pemangkasan gaji itu benar dilakukan oleh Bendahara Desa.

“Tentang kronologisnya, semenjak terpilih Kades Gunung Lagan pada Tahun 2014-2015 lalu, kini sudah hampir menjalani 5 Tahun berjalan cuma 1 Tahun awal kepemimpinannya yang tidak di potong,” ujarnya.

Lanjutnya, setelah di Tahun ke 2016-2017 mulai dilakukan pemangkasan gaji sebesar 14 persen untuk pajak dan lainnya.

“Di Tahun kelanjutan 2017-2018 pemotongan tetap berlanjut, kami pun mencoba untuk melakukan komplin agar jangan ada pemotongan gaji yang 14 persen tersebut. Namun banyak alasan mereka dan sampai saat ini di Tahun 2020 gaji kami tetap di pangkas 14 persen semua ini fakta yang saya katakan,” jawabnya lewat handphone.

Sementara itu, salah satu dari pemimpin Sarak Desa Gunung Lagan membenarlan juga, sudah menjalani 4 Tahun dalam perkiraan perbulan Rp 7.500.000 (Tujuh Juta Lima Ratus ) dan selama ini, sudah 4 Tahun di perkirakan mencapai Rp 360 juta yang dilakukan oleh Bendahara Desa.

Untuk mencari kebenaran informasi, pelaku pungli tersebut yakni Bendahara Desa bersama Kepala Desa.

Kades Gunung Lagan, Mayasari ketika di hubungi lewat via Handphone WhatsApp dengan nomor Kontak:
08216015XXXX mengatakan tentang pemotongan honor termasuk honornya juga ikut di potong dan ia selaku Kades Gunung alagan juga keberatan jawabnya.

“Tentang informasi Perangkat Desa yang merasa keberatan tolong bawa kepada saya dan kita dudukan siapa pelaku pemangkasan honor tersebut,” pintanya melalui chat WhastAppnya.

Sesuai dengan hasil konfirmasi dengan Kades Gunung Lagan Kecamatan Gunung Meriah Kabupaten Aceh Singkil di minta kepada penegak hukum segera mencari dalang dugaan pungli dan memanggil di proses secara hukum yang berlaku di NKRI. (Muklis CN)

Kades Takalar Pasir Diduga Menyalahgunakan Dana Covid-19 Ratusan Juta Rupiah

Aceh Singkil, CN – Pasca pademix corona virus (COVID-19) di Desa Takal Pasir Kecamatan Singkil menggunakan anggaran untuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) Rp 600.000 di jadikan berupa sembako di harga menglambung.

Sebagai pelaksanaan pembelanjaan langsung Kades Takal Pasir dengan masyarakat Desa Siti Ambia binisial N dengan harga beras 15 kg Rp 190.000 per Sak informasi tersebut pada (17/8/2020).

Rp 172 Juta anggaran dana COVID-19 yang seharusnya langsung tunai Rp 600.000 per Kepala Keluarga (KK) ternyata menjadi sembako mahal dan isentif Relawan 3 bulan hanya di bayarkan 1 bulan dan sisanya entah di kemanakan.

Sementara LB warga Desa Takal Pasir menuturkan pada media ini bahwa pengadaan sembako 15 kg di bagikan kepada masyarakat per KK atau 30 kg dengan 380000 untuk mencakup Rp 600.000 gula, minyak goreng dan lain lain.

“Tentang pengadaan sembako tersebut telah melanggar peraturan bupati (Perbup) Tahun 2020 bahwa bantuan langsung tunai (BLT) harus tunai tidak boleh pengadaan sembako atau bersifat barang,” tegasnya.

Oleh karena itu, Kades diduga telah mengangkangi peraturan Bupati Aceh Singkil dan Mendes PDTT bahwa BLT yang seharusnya di uangkan bukan berbentuk barang atau pun sembako.

Untuk mencari kebenaran imformasi tersebut Kades Takal Pasir, Sarman saat di komfirmasi langsung melalui via telepon dan juga lewat chat wathApp tidak ada jawaban, hingga berita ini di tayangkan.

Selain itu, sesuai informasi masyarakat, kepada Inspektorat di minta Audit Dana Desa Takal Pasir Kecamatan Singkil Kabupaten Aceh Singkil. (Muklis CN)

Dalam Rangka Sambut HUT RI ke-75, Bendera Merah Putih Dibentangkan Pada Acara Deklarasi Pilkada Damai

Sukabumi, CN – Dalam rangka Deklarasi Damai Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak yang akan digelar pada akhir Tahun 2020 mendatang, Bendera Merah Putih sepanjang 75 meter dibentangkan di pantai Citepus Palabuhanratu,
Minggu (16/8/2020).

Pelaksanaan acara mewajibkan semua peserta dan tamu undangan menjalankan protokol kesehatan.

Pembacaan Deklarasi Pilkada damai dipandu oleh Komandan Distrik Militer 0622/Kabupaten Sukabumi (Dandim 0622) Letkol Arm Suyikno dan diikuti oleh beberapa perwakilan Partai Politik

Bupati Sukabumi H. Marwan Hamami yang turut hadir dalam acara tersebut menyampaikan bahwa dengan pembentangan bendera sepanjang 75 meter ini, semoga bisa menjadi motivasi bagi masyarakat untuk menumbuhkan semangat kemerdekaan di tengah covid-19.

Terkait dengan deklarasi Pilkada damai, Bupati menyampaikan bahwa dengan dilaksanakannya Deklarasi ini diharapkan pelaksanaannya akan aman dan kondusif.

“Penyelenggarakan Pilkada di Kabupaten Sukabumi kita lakukan kesepakatan fakta integritas Pilkada damai, dan juga Pilkada damai sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan bangsa yang telah bersusah payah membentuk Negeri Ini jangan sampai ada gesekan dimasyrakat karena adanya perbedaan pandangan politik,” Imbuh Bupati.

Pada kesempatan itu, Bupati beserta Kapolres Sukabumi dan Dandim 0622 menandatangani Fakta Integritas Deklarasi Pilkada damai 2020, usai penandatanganan kesepakatan bersama yang dilakukan oleh perwakilan Partai Politik.

Setelah acara penandatanganan berlangsung, H. Marwan Hamami mengikuti kegiatan pelepasan 75 ekor Tukik.

Sementara itu, Ketua Maung Sukabumi Sandi Suwandi mengatakan bahwa mereka hadir diacara ini, atas inisiatif dari Relawan Maung Sukabumi dan sangat mengapresiasi dan mendukung Pilkada damai, aman, sejuk dan tentram.

Sandi pun menjelaskan bahwa Maung Sukabumi adalah Relawan Marwan untuk generasi sukabumi. Dimana, diketuai oleh Sandi Suwandi beserta rekan-rekan Gibas.
sektor Palabuhanratu diketuai oleh Tio Margono dan sSektor Cisolok diketuai oleh Asep Bule. (Novita CN)