WASHINGTON, CN – Bitcoin (BTC), aset kripto terbesar di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar, kembali mengalami tekanan dan sempat turun di bawah level US$77.000 pada perdagangan sesi Asia. Pelemahan ini dipicu kombinasi kenaikan harga minyak dunia serta meningkatnya imbal hasil obligasi Treasury Amerika Serikat yang mengurangi minat investor terhadap aset berisiko, termasuk kripto.
Berdasarkan data CoinGecko pada Senin (18/5/2026), harga Bitcoin bergerak dari kisaran US$78.500 hingga menyentuh level terendah harian di US$76.696. Dalam 24 jam terakhir, BTC tercatat melemah sekitar 1,4 persen.
Penurunan harga tersebut turut diikuti melemahnya aktivitas perdagangan. Volume transaksi harian Bitcoin turun sekitar 7 persen menjadi US$24,2 miliar, sementara kapitalisasi pasar menyusut ke level US$1,53 triliun.
Kondisi ini mencerminkan pelemahan signifikan, mengingat harga Bitcoin kini berada sekitar 39 persen di bawah rekor tertinggi sepanjang masa di level US$126.000 yang tercatat pada Oktober 2025.
Aset kripto utama lainnya juga bergerak di zona merah. Ethereum (ETH) turun lebih dari 3 persen ke level US$2.100. Sementara itu, BNB dan XRP masing-masing melemah sekitar 1 persen, sedangkan Solana turun sekitar 2 persen. Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto global turun sekitar 1,5 persen menjadi US$2,56 triliun.
Geopolitik dan Tekanan Makro Picu Sentimen Risk-Off
Tekanan jual mulai meningkat setelah Bitcoin sebelumnya sempat bergerak di kisaran US$82.000, didorong arus masuk ke produk exchange-traded fund (ETF) spot dan optimisme terhadap perkembangan regulasi kripto di Amerika Serikat.
Namun, sentimen pasar berubah cepat setelah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS, Donald Trump, melalui platform Truth Social mengeluarkan peringatan terkait potensi aksi militer apabila kesepakatan damai tidak menunjukkan kemajuan. Situasi tersebut memicu risk-off sentiment di pasar global, di mana investor cenderung menghindari aset berisiko.
Di sisi lain, harga minyak dunia turut melonjak. Minyak Brent naik sekitar 1,78 persen ke level US$111,2 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,2 persen menjadi US$107,7 per barel.
Kenaikan harga energi memunculkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi yang lebih persisten. Kondisi ini berpotensi mendorong Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang pengetatan kebijakan lanjutan.
Tekanan juga terlihat di pasar obligasi. Imbal hasil Treasury AS naik ke level tertinggi dalam 12 bulan terakhir, meningkatkan daya tarik aset berpendapatan tetap sekaligus mengurangi minat terhadap aset tanpa imbal hasil seperti Bitcoin.
Kombinasi faktor tersebut membuat pasar kripto kembali memasuki fase risk aversion. Indeks Fear & Greed kripto juga turun ke level 28, mendekati zona ketakutan, dari posisi netral di kisaran 40–50 pada pekan sebelumnya.
Arus ETF Berbalik, Investor Institusional Mulai Mengurangi Risiko
Dari sisi institusional, tekanan pasar turut tercermin pada arus dana ETF. Data SoSoValue mencatat ETF Bitcoin spot mengalami arus keluar bersih sekitar US$1 miliar dalam sepekan hingga 17 Mei 2026. Kondisi ini mengakhiri tren enam pekan berturut-turut arus masuk dana.
Perubahan tersebut menunjukkan investor institusional mulai mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di tengah meningkatnya ketidakpastian makroekonomi global.
Mengutip CoinDesk, Presto Research menilai perubahan arus dana ini mencerminkan strategi portfolio rotation menuju aset yang lebih defensif, seiring ekspektasi penurunan suku bunga yang semakin tertunda.
Meski demikian, sebagian analis menilai koreksi saat ini masih tergolong wajar dalam tren jangka panjang yang lebih besar. Fokus pasar kini tertuju pada data inflasi Amerika Serikat, pergerakan imbal hasil obligasi, serta perkembangan regulasi kripto seperti RUU struktur pasar kripto CLARITY Act yang dinilai berpotensi menjadi katalis positif berikutnya.
Walaupun volatilitas diperkirakan masih tinggi, sejumlah analis tetap melihat prospek jangka menengah Bitcoin cukup konstruktif. Area US$74.000 disebut sebagai level support penting yang perlu diperhatikan apabila tekanan pasar berlanjut.
Ke depan, pergerakan Bitcoin diperkirakan masih dipengaruhi dua kekuatan utama, yakni tekanan makro global yang cenderung menekan aset berisiko serta fundamental on-chain dan adopsi institusional yang dinilai masih cukup kuat. Pasar juga diperkirakan tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan data inflasi dalam beberapa hari mendatang. (Hardin CN)




