H.Affan Alfian.SE, Berkantor Di Kecamatan Sultan Daulat, ini Agenda yang Dilakukan

Subulussalam Sultan daulat, CN – Walikota Subulussalam H. Affan Alfian Bintang, SE Berkantor Di Kecamatan Sultan Daulat Guna Membrikan pelayanan yang lebih dekat kepada masyarakat. Rabu, (11/03/2020)

Walikota Subulussalam, yang didampingi Wakil Walikota, Asisten, Kabag Humas, Kasubag Pemdes, Kasubag Umum, Disdikbud, Dinas PUPR, serta DPMK Kota Subulussalam.

Melakukan Agenda dan kunjungan kerja di desa Lae Lange, Desa Pulo Belen, dan sigersing, kecamatan sultan daulat. Sekaligus berkantor di kecamatan Sultan daulat guna memberikan pelayanan kepada masyarakat secara lebih dekat, serta meninjau Perkebunan Jagung di Desa Lae Lange.

Didalam Agenda itu Walikota berkantor di kecamatan Sultan daulat, ada persentase dari camat mengenai biodata camat, luas wilayah kerja, nama kepala kampung yang mencakup wilayah yang terkait, fasilitas umum yang ada di Kecamatan.

Setelahnya maka Wali Kota Affan Alfian Bintang akan melakukan kegiatan serupa di kecamatan lain seperti Rundeng dan Longkib.

Kebijakan berkantor ke kecamatan ini lanjut Kabag Humas, Amrin Cibro merupakan aksi nyata dan Ramah tamah Kepada Masyarakat Walkot Affan Bintang guna mendekatkan pelayanan terhadap masyarakat. Dan ini adalah salah satu visi misi pasangan Bisa pada waktu itu.dan  insa allah satu persatu visi-misi Walikota dan wakil Walikota terlaksana. (Mh CN)

Jalan Berliku Burhan Ismail (BI)

Oleh: M. Kubais M. Zeen
Editor dan Penulis Freelancers.
Pernah jadi Penulis Literasi Koran TEMPO, edisi Makassar.

“Hidup yang tak pernah diperjuangkan,
tak kan pernah dimenangkan.”

(Sutan Sjahrir, Pendiri Bangsa)

Petuah si Bung Kecil—begitu Sutan Sjahrir akrab disapa, “terpahat” di baju kaos produk kreaif Insist Press-Resist Book, Yogyakarta, yang saya miliki beberapa tahun lalu. Petuah tokoh yang saya kagumi itu terngiang saat menggurat serpihan kisah hidup seorang lelaki yang pantang surut berpeluh memandirikan dirinya.
Nama lelaki itu Burhan Ismail (BI), yang lahir pada 5 Desember 1976 di Orimakurunga, Kayoa Selatan, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Di desa pesisir ini, ia menghabiskan sebagian hidupunya. BI tumbuh di tengah keluarga yang tak bergelimang harta. Sang ibu, Sukarni Mologutu, hanya ibu rumah tangga yang turut menyangga beban hidup dengan mengolah umbi—hasil utama kebun jadi sagu. Ayahnya, Ismail Lauhin, petani yang dipercaya masyarakat menjabat sekretaris desa selama beberapa periode di zaman Orde Baru. Jabatan itu tak seperti saat ini, pegawai negeri yang jadi rebutan. Sesekali, ayahnya yang turunan Gamkonora, Kecamatan Ibu Selatan, itu melaut untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga.

Sagu, terkenal sebagai makanan khas masyarakat Maluku Utara, dan di tanah kelahiran BI-lah pusatnya, yang hingga kini masih diproduksi secara tradisional. BI belia, setia membantu ibu membuat dan menjual sagu semampunya. Di dalam keluarga, ia terkenal menjaga kebersihan diri, fasih pula mengaji. Saat menginjak usia empat tahun, ia khatam Al-Quran—prestasi ini tertular pada putrinya, Sri Humairah B. Ismail.

Lelaki berbintang Sagitarius itu menyelesaikan pendidikan SD-SMP di tanah kelahirannya. Saat masih SD, BI, seperti orang tak mampu lainnya, mengenakan seragam tak padu: kemeja putih, celana pendek bebas sesuka hati, dan telanjang kaki lantaran tak mampu beli sepatu, juga celana seragam merah. Di SMP tidak seperti itu lagi. Sepulang sekolah, ia tetap menyempatkan diri membantu ibu yang paling menyayanginya.

Kira-kira tahun 1990, BI meninggalkan tanah kelahiran, menimba ilmu di Aliyah SP-IAIN Ternate. Di kota ini, numpang hidup di orang lain—pengampun—jadi pilihan terbaik. Sambil sekolah, dia cari uang sendiri, jadi buruh di Pelabuhan Bastiong, agar orangtuanya tersenyum.

Menjadi buruh masih dilakukannya hingga semester satu Fakultas Tarbiyah STAIN/IAIN Ternate. Sewaktu kuliah, BI tak lagi tinggal di pengampun. Bersama beberapa kawan patungan menyewa sebuah kamar kontrakan yang tak jauh dari kampus. Perut kosong sudah jadi hal biasa. Pun demikian dengan kenakalan, yang membuat pening sebagian temannya sampai menganggap BI tak akan menghuni daftar manusia sukses.

Orangtua dan keluarganya menyungging senyum saat BI pulang kampung dengan gelar sarjana. Beberapa waktu kemudian, guru ngaji ini beranikan diri mempersunting pujaan hatinya, Nursina Ilyas, gadis rumahan yang pontang-panting ia tambatkan hatinya. Sembari mengajarkan anak-anak mengaji, BI membangun sebuah Mushallah yang diberi nama Al-Irsyad. Ia pun bekerja menangkap sosoro (ubur-ubur) di laut Loid. Dua peristiwa penting yang selalu dikenangnya: tenggelam di laut pukul dua dini hari dan anak pertamanya lahir. Suatu malam, ia seperahu sampan dengan seorang sepupu, Bakbak nama panggilannya, ketiban rezeki. Banyak sosoro “menari-nari” di sekitar perahu. Girang bukan main. Sambil teriak, dengan penuh semangat memasukkan sosoro ke dalam perahu hingga dingin menusuk. BI tersentak, perahu sudah di dalam air, berenang bersama sosoro. Keduanya, susah payah mengeluarkan hasil tangkapan dan dibawa pulang secukupnya.

Di lain waktu, di tengah gulita berburu mahluk berkepala besar dengan jari-jari menjuntai itu, kabar gembira menghampiri: istrinya melahirkan. Tanpa pikir panjang, ia menamai anak sulungnya itu seperti nama “rumah” Tuhan yang sedang dibangun tersebut: Muhammad Irsyad B. Ismail. Karena masih butuh suntikan dana pembangunan Mushallah, BI menjual halua kenari di sejumlah daerah, dan memasukkan proposal bantuan dana di beberapa tempat. Impiannya terwujud. Mushallah rampung dibangun dan digunakan sampai kini.
Tahun 2001/2002 berbekal restu orangtua, dia memboyong anak istri ke Ternate, untuk mencari pekerjaan baru dengan harapan kehidupannya bisa berubah. Di kota ini BI menumpang hidup di gubuk kakak sulungnya. Sejumlah pekerjaan ditekuni demi menafkasi anak istri: tukang ojek, dagang sagu dan ikan kering—orang Maluku Utara, menyebutnya ikan garam. Dengan motor yang ia sewa, sedari subuh hingga malam, BI berburu penumpang. Ia hanya pulang rumah saat waktu makan tiba.

Lain lagi saat menjual sagu dan ikan kering. Pasar yang disasar, Manado. Dengan Kapal Pelni Umsini, BI menjajakkan dagangannya di kota yang terkenal dengan gadis-gadis rupawan mirip dara-dara Mandarin itu. Sayang, tak laku, harganya sama dengan di Ternate. Jalan satu-satunya, ia barter dengan pakaian. Pergi bawa dagangan, pulang bawa dagangan pula. Pakaian ini kemudian dijual di kampung halamannya. Banyak ibu-ibu yang diberikan untuk mengerjakan tiga kebun miliknya, ditanami ubi yang kemudian diolah jadi sagu.

Dua pekerjaan itu belum membuat hidupnya membaik. Kadangkala, jika uang tak cukup membeli makanan, BI membawa anak istrinya ke rumah pengampunya dulu sewaktu SMA, untuk menumpang makan. Tak jarang pula sebungkus nasi dinikmati bersama anak istri. Suatu malam anaknya demam malaria, uang tersisa 10 ribu, hujan tak henti mengguyur, motor sudah ditarik pemiliknya. Lima ribu ia gunakan untuk mencari bantuan, pemilik motor mengacuhkannya.
“Saya basah kuyup, menangis sesunggukan sepanjang jalan karena tak bisa membawa anak saya ke dokter atau rumah sakit. Di saat seperti ini, alhamdulillah, Allah membuka jalan. Sahabat saya, Adeko yang masih bujangan saya temui mau meminjamkan motornya. Malam itu juga, saya mengojek untuk membeli obat buat anak saya, juga makanan,”matanya berkaca-kaca mengenang.

Kendati begitu, BI tak patah arang. Seperti prinsip pelaut Bugis-Makassar, “sekali layar terkembang, pantang surut untuk kembali.” Meratapi kondisi hidup tak kan menyelesaikan masalah. Hidup memang harus diperjuangkan. Tahun 2003, Taraweh Djamaluddin (Tedja alm), wartawan senior yang hidup di rantau kembali ke Ternate membuka lowongan untuk media Tabloid mingguan Cermin Reformasi. BI beranikan diri melamar dan diterima. Sambil meliput berita, ia ngojek. Berharap gaji yang sangat pas-pasan, tak cukp lima ratus ribu, itupun tiga bulan sekali diterima sebesar itu, bisa-bisa mati kelaparan.

Dua tahun jadi wartawan, BI mengikuti pelatihan jurnalistik yang dilaksanakan Cermin Reformasi bekerja dengan Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) Jakarta, di Ternate. Wartawan kawakan yang juga tokoh pers nasional antara lain Atmakusumah Astraatmadja, TD. Asmadi, Warief Djadjanto Boesoerie, dan Maskun Iskandar adalah gurunya di pelatihan ini. BI lulus terbaik kategori disiplin tinggi.

Ia “pensiun” sebagai pengojek saat mendirikan Posko Malut, 11 Januari 2010. Sebelumnya, ia memimpin harian Cermin Reformasi, yang cetak Senin Kamis karena kondisi mesin, pusing pula menyediakan bahan baku. Dr Kasman H. Ahmad, Dosen BI di IAIN, juga senioranya di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang hafal betul bagaimana BI waktu kuliah, pun mengakui tak pernah membayangkan mantan mahasiswanya itu akan jadi entrepreneur, mendirikan media.

Memaknai Hidup
Martin Heidegger, salah satu filosof eksistensialis besar Abad 20 menyatakan, setiap orang mengalami fenomena, dan memaknai sendiri fenomena itu (Kahija, 2017). Dalam Islam, eksistensi manusia disebut khalifatullah filardh. BI merasa tugas kekhalifaannya bermakna, jika ia mampu membahagiakan kedua orangtua, anak istri, keluarga, dan menabur kebaikan pada orang lain, sekalipun kebaikan itu gampang dilupakan orang saat terantuk “kerikil.” Jalan ke arah ini ialah dengan mendidik kemandirian diri sendiri, sebab bagaimana mungkin bisa melakukan itu jika diri sendiri masih berharap uluran tangan orang lain.
Wajar, BI mati-matian menekuni berbagai pekerjaan. Dan di antara pekerjaan itu, jurnalistik dan pebisnis media-lah jalan terbaik yang dipilihkan Tuhan untuknya, agar ia bisa mewujdukan impian, termasuk seperti idolanya, Dahlan Iskan, pendiri Jawa Pos Grup. Kata pakar otak kanan Ippho Santosa, manusia harus berupaya “memantaskan diri” sebelum dipantaskan oleh Tuhan.

Kendati demikian, ia mengakui jasa besar istrinya.”Saya beruntung memiliki istri yang sangat sabar dan setia. Jika tidak, akan lain ceritanya, hidup saya tidak seperti ini.” Pengakuan ini menguatkan pandangan bahwa di balik kesuksesan sesorang suami tak lepas dari peran besar sang istri. Maka, jangan pernah setitikpun melukai istri.

Dari secuil kisah hidup BI, tak salahnya kita berkaca, memetik hikmah, bahwa untuk hidup bermakna seperti petuah Sutan Sjahrir, harus diperjuangkan, karena “Allah tak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali mereka mengubah nasibnya sendiri,” Sejumlah ahli tafsir memaknai salah satu ayat Al-Quran ini, ada peran penting manusia di dalamnya.

Dinilai Gagal, GMNI Cabang Ternate Desak Gubernur Copot Kadikbud Malut

SOFIFI, CN – Atas pernyataan kontrofersi yang di keluarkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara (Malut) Terkait Persiapan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) Tahun ajaran 2019-2020.

Sebelumnya, Plt Kadikbud Malut Djafar Hamisi, kepada awak media, usai melakukan rapat, bersama Komisi III DPRD Malut Pada Selasa, (10/3/20) kemarin Mengatakan, pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Maluku Utara, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sudah seratus persen. sementara untuk Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasa Aliya (MA) kurang lebih 96 persen. tersisah 53 sekolah yang belum melaksanakan UNBK.

Ironisnya, pernyataan yang di keluarkan Djafar itu, justru berbeda dengan pernyataan sebelumnya, saat melakukan konferensi Pers di kantor Dikbud Malut pada Rabu, (11/3/2020) di katakannya, Maluku Utara progres untuk SMK yang melaksanakan UNBK 94 persen, namun yang belum seluruhnya melaksanakan UNBK adalah Kabupaten Halmahera Selatan(Halsel). Dalam hal ini yang baru melaksanakan UNBK di Halmahera Selatan itu untuk SMK 38 persen dan SMA 70 persen.

Hal itu Mendapat perhatian serius dari Organisasi kepemudaan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Ternate.

Ayatullah Sifati, Ketua GMNI Cabang Ternate kepada wartawan mengatakan, persoalan Pendidikan adalah hal yang paling urgen dan patut di perhatikan, dengan sisih Geografis Maluku Utara Tentu membutuhkan perhatian serius pemerintah Provinsi terutama Dikbud Malut.

Apalagi menjelang pelaksanaan UN, Dikbud Malut seharusnya sudah mampu memastikan 10 Kabupaten/Kota yang ada di Maluku Utara, berapa banyak Sekolah yang Menggunakan UNBK serta yang belum menggunakan UNBK.

Selanjutnya Aya menegaskan, sebagai Ketua GMNI Cabang Ternate, kami menilai pernyataan Kadikbud Malut Djafar Hamisi, Gagal memimpin Dinas pendidikan. terkesan tidak mengantongi data. kami juga mendesak Gubernur Maluku Utara agar segerah mencopot Kadikbud Malut.

“Selaku ketua Cabang GMNI Ternate kami mendesak Gubernur Malut segerah mencopot Kadikbud Malut,” Tegasnya (Andre CN)

Gelar Konferensi Pers, Dikbud Malut Sebut Halsel Belum Seluruhnya Melaksanakan UNBK

SOFIFI, CN – Menjelang pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tahun ajaran 2019-2020
Dinas pendidikan dan kebudayaan Maluku Utara (Malut) menggelar konferensi Pers terkait persiapan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di kantor Dikbud Malut pada Rabu, (11/3/2020).

Plt Kadikbud Malut Djafar Hamisi kepada awak media mengatakan, persiapan UN untuk wilayah Maluku Utara sudah maksimal.

“Dengan adanya Koordinasi Dikbud terhadap Kabupaten/Kota hingga pada distribusi naskah terakhirnya hari ini untuk dua Kabupaten yakni Taliabu dan Sula,” Terangnya.

Djafar bilang, Maluku Utara untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) progresnya sudah 94 persen, Hanya saja Halmahera Selatan yang tidak seluruhnya Melaksanakan UNBK. Baik itu Sekolah menengah kejuruan (SMK) maupun Sekolah Menengah Atas (SMA) pasalnya, Halmahera selatan yang baru melaksanakan UNBK untuk SMK 38 Persen dan SMA 75 persen.

Sementara itu, yang melaksanakan ujian tahun ini sebanyak 50.660 Siswa dari sepuluh kabupaten kota mulai dari jenjang SMP, MTS, SMPTK, PAKET B, SMA, MA, SMTK, PAKET C, dan SMK.

Selanjutnya Djafar berharap, dalam menghadapi Ujian Nasional ini para Guru dan Orang tua turut menjaga anak-anak siswa.

“Untuk tetap menjaga kesehatan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan sepanjang Ujian Nasional,” Tutupnya (Andre CN)

Terkait Dugaan Pemalsuan Ijazah Tahun 2010, ini Penjelasan Panitia Ujian Nasional Nursyafaat Koititi

HALSEL, CN – 114 Siswa Madrasah Aliyah Nursyafaat Desa Koititi, Kecamatan Gane Barat Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) Provinsi Maluku Utara (Malut) yang mengikuti Ujian Nasional Tahun 2010, ternyata banyak siswa siluman yang didaftarkan dalam data Format 8355 sebagai peserta Ujian.

Pasalnya, dari Data yang di himpun wartawan cerminnusantara.co.id bahwa, selain beberapa siswa yang lulus namun tidak memiliki SKHUN sebagai bukti prasyarat kelulusan, ada juga siswa yang namanya terdaftar dalam Format 8355 sebagai peserta ujian namun tidak mengikuti prose belajar mengajar selama 3 tahun.

Selain itu, ada juga siswa yang namanya tidak terdaftar di data Kemendinas tahun 2010 sebagai peserta ujian, namun dengan kebijakan yayasan mereka di ikut sertakan ujian dan memiliki ijazah.

Suari Muhammad, salah seorang peserta ujian yang namanya tidak terdaftar di data Kemendiknas sebagai peserta ujian 2010 namun mengikuti ujian dan memiliki ijazah.

Suari mengakui, pada saat itu ia dan beberapa temannya mengikuti ujian dan di minta oleh Ruslan konoras selaku ketua yayasan sekaligus rangkap Kepala Sekolah (Kepsek) MA Nursyafaat Koititi untuk bayar uang ujian Sebesar 1 Juta.

“Saya dan beberapa teman-teman di minta oleh Ruslan Konoras untuk bayar Uang ujian sebesar 1 jt,” Ungkapnya.

Suari juga menyesalkan kebijakan Ruslan Konoras, pasalnya, ia dan beberapa teman-temannya mendaftar sebagai peserta ujian dengan harapan memiliki ijazah yang nantinya di pergunakan untuk kuliah, melamar pekerjaan dan lain-lain.

“Tentunya saya dan teman-teman menjadi korban karena ijazah yang kami pegang tak dapat di gunakan untuk mengikuti tes dan lain-lainnya,” Ucapnya.

Sebelumnya, Kepada wartawan cerminnusantara.co.id Senin (2/3/2020) Sekertaris Ujian Nasional Tahun 2010 Ruslan Hamada menyampaikan, bahwa terkait 49 siswa yang tidak lulus itu ada ujian ulang, tapi ujian dilaksanakan pada malam hari di rumah pak salim selaku pengawas dari unkhair, menyangkut dengan Data kelulusan pasca ujian ulang kami dari pihak panitia tidak mengetahui.

Lanjutnya, masalah siswa yang sampai saat ini tidak memiliki SKHUN, waktu itu kami dewan guru pernah menyampaikan ke Ruslan Konaras namun tak pernah di tanggapi.

Ketika di tanyakan mengenai peserta ujian yang tidak terdaftar namun mengikuti ujian dan memiliki ijazah, Ruslan Hamada menyampaikan bahwa Itulah kehebatan Ruslan Konoras memutuskan segala sesuatu atas kemauanya sendiri.

Dengan wajah gelisah Ruslan Hamada menjelaskan bahwa, menyangkut dengan data peserta ujian, semua di ambil alih oleh Ruslan Konoras, sebab kami panitia pada waktu itu hanya nama panitia tapi segala sesuatu di atur oleh Ruslan Konoras selaku pemilik Yayasan dan sekaligus Kepala Sekolah.

Ruslan Hamada juga menambahkan bahwa bisa saja data peserta ujian yang di bawakan ke Sekolah itu sudah di rekayasa oleh Ruslan Konoras selaku Ketua Yayasan.

“Sehingga ada peserta yang namanya tidak terdaftar dalam Format 8355 sebagai peserta Ujian namun mengikuti ujian,” Tutupnya. (Hafik CN)

Tes Wawancara PPS Kecamatan Kayoa Selatan Berjalan Lancar

HALSEL, CN – Pelaksanaan tes wawancara Panitia Pemungutan Suara (PPS) pada Rabu, (11/3/2020) oleh Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Kecamatan Kayoa Selatan Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) Provinsi Maluku Utara (Malut) berjalan lancar, aman dan tertib. Tahapan tes wawancara tersebut bertempat di kantor Camat Kayoa Selatan dan juga di awasi Panwascam Kayoa Selatan.

Ketua PPK Kayoa Selatan Suriyadi Fadel mengatakan, jumlah PPS yang telah mengikuti tes wawancara sebanyak 33 orang, 1 orang tidak mengikuti tes dengan alasan sakit.

Pada prinsipnya kata Suriyadi, seleksi wawancara ini bagian dari menjalankan perintah Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Halmahera Selatan, karena KPU memberikan kewenangan kepada PPK untuk melakukan seleksi.

“Dalam undang-undang No 10 Tahun 2016 satu poin kewajiban PPK adalah membantu KPU Kabupaten/Kota dalam menyelenggarakan Pemilukada,” Ujar pria yang sering disapa Adhi itu.

Lebih lanjut, Adhi menambahkan, sementara soal kelulusan itu di tentukan langsung KPU, selesai tes nanti skor nilai PPK akan di serahkan kembali ke KPU pada tanggal 14 kedepankan. (Red/CN)