Cermin Nusantara

Satgas Yonif 642/Kps Ajak Murid SD Negeri Ururu Menyanyikan Lagu Wajib dan Belajar dengan Semangat

Kaimana, CN – Pos Yamor Satgas Yonif 642/Kps yang dipimpin oleh Serda M. Agil Ilmawan melaksanakan kegiatan pengajaran (Gadik) di SD Negeri Ururu, Distrik Yamor, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat, pada Minggu 3 Agustus 2025.

Anggota Pos Yamor mengajar dengan penuh semangat, dan para murid menyambut materi yang disampaikan dengan antusias.

Di sela kegiatan, prajurit TNI juga mengajarkan lagu-lagu wajib nasional, seperti Satu Nusa Satu Bangsa dan lainnya, untuk menanamkan nilai cinta Tanah Air sejak dini.

Diharapkan, murid-murid SD Negeri Ururu kelak tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berjiwa nasionalisme, dan patriotisme demi kemajuan kampung, bangsa, dan negara Indonesia. (Hardin CN)

Gotong Royong Perbaiki Sekolah Rusak, Babinsa dan Warga Bulukumba Hadirkan Harapan Baru

Bulukumba, CN – Ketika keterbatasan anggaran menjadi penghalang, semangat gotong royong justru menjadi kekuatan utama. Hal inilah yang ditunjukkan oleh Babinsa Koramil 1411-02/Bulukumba, Serma Marsuki, bersama masyarakat Desa Bontoharu saat bergotong royong memperbaiki SDN 81 Palampang di Dusun Bontosunggu, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan, pada Jumat (1/8/2025).

Sekolah dasar tersebut telah lama mengalami kerusakan parah setelah beberapa ruangannya tertimpa pohon tumbang. Akibatnya, tiga ruang kelas tidak dapat digunakan, memaksa pihak sekolah menggabungkan beberapa tingkatan dalam satu ruangan. Kondisi ini tentu sangat mengganggu proses belajar mengajar.

Melihat situasi tersebut, Serma Marsuki bersama warga berinisiatif melakukan perbaikan secara swadaya. Tanpa menunggu bantuan resmi, mereka mengumpulkan tenaga, material, dan semangat demi memperbaiki gedung sekolah untuk masa depan anak-anak di wilayah itu.

“Kegiatan ini adalah bentuk kepedulian kami sebagai aparat kewilayahan untuk mendorong agar anak-anak bisa belajar dalam kondisi yang lebih baik. Untungnya, meskipun terkendala dana, semangat gotong royong tetap kuat di tengah masyarakat,” ujar Serma Marsuki.

Rehabilitasi sekolah ini sepenuhnya dilakukan secara swadaya, dengan dukungan dari Pemerintah Desa Bontoharu, para orang tua murid, dan masyarakat setempat. Kendala utama dalam pengajuan bantuan resmi adalah status lahan sekolah yang masih bersengketa, sehingga belum dapat dimasukkan dalam skema pembiayaan pemerintah.

Meski demikian, keterbatasan itu tak menyurutkan langkah mereka. Warga bersama Babinsa terus melanjutkan pekerjaan secara perlahan, menyisihkan waktu dan sumber daya yang dimiliki. Setiap bata yang ditumpuk menjadi simbol harapan baru bagi generasi penerus di pelosok Bulukumba.

Aksi nyata ini mencerminkan komitmen TNI AD untuk selalu hadir dan peduli terhadap permasalahan rakyat. Tidak hanya dalam situasi darurat atau keamanan, tetapi juga menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat, termasuk bidang pendidikan.

Inisiatif ini diharapkan menjadi inspirasi bagi semua pihak agar terus mendorong solusi nyata di tengah keterbatasan. Sebab masa depan anak-anak tidak bisa menunggu anggaran cair, namun bisa dimulai dari kepedulian dan kerja sama yang tulus. (Hardin CN)

Buka Pelatihan Bahasa Mandarin, Harita Nickel: Bagian dari Strategi Besar Kami

HALSEL, CN – Di tengah geliat industri nikel yang kian kompetitif dan terbuka terhadap investasi asing, Harita Nickel kembali mengambil langkah strategis dalam pemberdayaan generasi muda. Melalui program Peningkatan Keahlian dan Keterampilan Pemuda (PELITA) yang kini memasuki batch ketiga, perusahaan ini mengarahkan fokus pelatihan pada kemampuan berbahasa Mandarin, bahasa yang kini memegang peranan penting dalam komunikasi industri global, Kamis (31/7/2025).

Setelah dua angkatan sebelumnya berhasil mencetak puluhan tenaga kerja terampil di bidang teknis, seperti operator wheel loader dan overhead crane, kali ini Harita Nickel mempersiapkan pemuda dari Desa Soligi dan Kawasi untuk menghadapi tantangan yang lebih global: komunikasi lintas budaya.

“PELITA bukan sekadar pelatihan keterampilan, tapi bagian dari strategi besar kami dalam membekali pemuda lokal dengan kemampuan yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini. Kami ingin mereka punya daya saing, bukan hanya di tingkat lokal, tapi juga nasional bahkan internasional,” ujar Ifan Farianda, Community Development Manager Harita Nickel.

Pemilihan bahasa Mandarin sebagai fokus pelatihan bukan tanpa alasan. Seiring meningkatnya kolaborasi dengan mitra kerja dari Tiongkok, komunikasi menjadi salah satu tantangan utama di lapangan. Harita Nickel merespons hal ini dengan membangun kapasitas anak-anak muda di sekitar wilayah operasionalnya.

“Bahasa Mandarin kini menjadi salah satu bahasa internasional paling strategis. Tenaga kerja lokal yang bisa menjembatani komunikasi tentu sangat dibutuhkan,” lanjut Ifan.

Untuk menyelenggarakan pelatihan ini, Harita Nickel menggandeng lembaga pelatihan bahasa berbasis di Jakarta yang juga memiliki jejaring internasional di Singapura. Program ini akan berlangsung selama 6 hingga 7 bulan, dengan materi mencakup 3 level sertifikasi HSK (Hanyu Shuiping Kaoshi), HSK 1, HSK 2, dan HSK 3, standar internasional dalam penguasaan bahasa Mandarin.

Sebanyak 30 peserta terpilih dari Desa Soligi dan Kawasi mengikuti pelatihan ini. Mereka dibagi dalam 2 kelompok utama yakni kelas reguler untuk lulusan SMA yang belum bekerja, serta kelas pelajar untuk siswa SMA kelas dua dan tiga. Strategi ini, menurut Ifan, bertujuan memberikan bekal sejak dini sebelum para peserta masuk ke dunia kerja atau melanjutkan studi ke luar negeri.

“Target kami adalah agar peserta dapat mencapai HSK level 3. Dengan sertifikasi ini, mereka sudah mampu melakukan komunikasi dasar di lingkungan kerja, termasuk sebagai penerjemah pemula atau staf administrasi,” jelasnya.

Suksesnya program ini tak lepas dari dukungan banyak pihak. Ifan menekankan pentingnya sinergi antara perusahaan, pemerintah Desa, dan keluarga peserta.

“Kami percaya, jika semua elemen bekerja sama, hasilnya akan nyata. Pemuda yang lebih siap, lebih percaya diri, dan lebih berdaya,” tukasnya.

Melalui program PELITA, Harita Nickel tidak hanya membangun kompetensi individu, tetapi juga membawa Desa-desa pesisir di Pulau Obi menuju peta ekonomi global yang lebih luas. (Hardin CN)

Kisah Pilu Nurdiana, Anak 13 Tahun Pengidap Hidrosefalus di Desa Babang

HALSEL, CN – Namanya Nurdiana Baadia, kisah pilu seorang anak perempuan berusia 13 tahun asal Desa Babang, Kecamatan Bacan Timur, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara (Malut). Di usia yang seharusnya dipenuhi tawa dan riang bermain, ia justru hanya bisa terbaring lemah di atas kasur, menanti keajaiban yang belum juga datang.

Sejak berusia 2 bulan, Nurdiana mengidap penyakit hidrosefalus, penumpukan cairan di rongga otak yang menyebabkan kepalanya terus membesar dari waktu ke waktu. Penyakit itu bermula dari demam tinggi di usia 1 bulan, diikuti kejang-kejang yang membuatnya harus dilarikan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Labuha.

Setelah sempat membaik dan pulang ke rumah, orang tuanya mulai menyadari perubahan tak biasa di kepala anak mereka. Jidatnya terlihat menonjol dan kepala membesar secara tidak wajar. Nurdiana kemudian dirujuk ke RSUD Chasan Boesoirie Ternate untuk menjalani operasi. Namun, keterbatasan ekonomi membuat harapan itu pupus di tengah jalan.

“Kami tidak punya uang, jadi kami pulang dan rawat dia di rumah seadanya,” tutur sang ibu, Alwia Arajang, dengan suara yang nyaris tak terdengar, Sabtu (26/7/2025).

Meski telah berulang kali mencoba membawa putri kecil mereka ke Rumah Sakit (RS), pasangan Alwia dan Lajuma Baadia akhirnya pasrah, merawat Nurdiana dengan kemampuan terbatas. Tahun demi tahun berlalu, dan kini sang anak hanya bisa diam, memandangi dunia dari sudut kamarnya.

Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Nursina Syamsuddin, yang turut mendata kondisi Nurdiana, mengungkapkan bahwa keluarga ini benar-benar membutuhkan uluran tangan.

“Mereka sudah berusaha semampunya. Sekarang mereka hanya bisa berharap ada bantuan untuk biaya pengobatan, agar Nurdiana punya kesempatan sembuh dan hidup lebih layak,” ujarnya lirih.

Kisah Nurdiana adalah potret pilu dari pelosok negeri yang masih terpinggirkan. Di balik senyap Desa, ada suara hati yang tak terdengar, seorang anak yang menunggu secercah harapan untuk hidup normal seperti anak-anak lainnya. (Hardin CN)

Mahasiswa Universitas Jember KKN ke Halsel dan Raja Ampat

JEMBER, CN – Universitas Jember (UNEJ) memberangkatkan 20 mahasiswa untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Dua wilayah Timur Indonesia, yakni Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara (Malut)  dan Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya. Kegiatan berlangsung mulai 24 Juli hingga 25 Agustus 2025.

Program ini merupakan hasil kerja sama antara Universitas Jember dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, melalui program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa.

Pelepasan peserta KKN dilakukan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik Slamin, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Fendi Setyawan, serta Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UNEJ, Yuli Witono, pada Rabu (23/7/2025).

“Program ini awalnya dirancang di tengah masa efisiensi, namun alhamdulillah tetap mendapat dukungan penuh dari Kementerian Desa,” ujar Yuli.

Sebanyak 10 mahasiswa dikoordinatori oleh Deni Saputra, mahasiswa Ilmu Administrasi Negara FISIP UNEJ, akan ditempatkan di Desa Sayoang, Kecamatan Bacan Timur, Halsel. Mereka akan membantu masyarakat memaksimalkan potensi komoditas Kelapa, termasuk pengolahan limbah Kelapa menjadi sumber energi Desa.

Sementara itu, 10 mahasiswa lainnya yang dikoordinatori Frenix Ardella, mahasiswi Hubungan Internasional FISIP, akan ditugaskan di Desa Warimak, Kecamatan Waigeo Barat, Raja Ampat. Fokus utama mereka adalah membantu pengembangan usaha pengolahan kepiting asap di desa tersebut.

Menurut Yuli, lebih dari 200 mahasiswa mendaftar untuk mengikuti program ini.

“Mahasiswa kita suka tantangan. Saat seleksi KKN ke Daerah terluar seperti NTB dan NTT, peminatnya juga sangat tinggi,” ujarnya.

Slamin, dalam sambutannya yang diselingi candaan, mengapresiasi semangat mahasiswa yang bersedia pergi jauh.

“Saya paling suka kalau ada mahasiswa yang pikniknya jauh. Ngopinya pun jauh. Apalagi ke Raja Ampat—percaya saya, indah sekali di sana,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa pengalaman KKN di daerah terpencil sangat penting untuk memperluas wawasan mahasiswa.

“Desa-desa ini sangat membutuhkan kehadiran mahasiswa untuk berbagi pengetahuan secara positif,” katanya.

Slamin juga mengingatkan pentingnya menyusun program kerja yang realistis dan berkelanjutan.

“Tak perlu program setinggi langit kalau tidak bisa dijalankan. Buatlah program yang bisa diteruskan oleh masyarakat setelah kalian pulang,” pesannya.

Ia mencatat bahwa pengiriman mahasiswa ke wilayah terluar makin meningkat sejak tahun lalu.

“Namun, ke Papua dan Halmahera, ini baru pertama kali. Mereka akan bergabung dengan mahasiswa dari kampus lain dan saya yakin sudah terkondisikan,” tambahnya.

Slamin menegaskan, Universitas Jember mendukung penuh program kolaboratif pemerintah pusat.

“Penentuan lokasi KKN berdasarkan prioritas nasional, sementara KKN mandiri biasanya berbasis kerja sama dengan Pemerintah Daerah,” pungkasnya. (Hardin CN)

TMMD Bangun Talud di Makian Barat, Antisipasi Longsor dan Erosi

HALSEL, CN – Salah satu program kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-125 Kodim 1509/Labuha adalah pembangunan talud penahan badan jalan di Desa Bobawa, Kecamatan Makian Barat, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara (Malut), Jumat (25/7/2025).

Proyek pembangunan dinding penahan tanah ini bertujuan untuk mencegah erosi dan longsor, serta meningkatkan stabilitas tanah di wilayah pedesaan yang rawan bencana.

Dan SSK Kapten Arm Ariep Hamdi menjelaskan bahwa pembangunan talud memiliki fungsi yang sangat vital. Talud berperan sebagai penahan tanah, terutama saat hujan lebat yang bisa memicu erosi atau longsor di jalan yang baru dibuka.

“Tanah di lokasi ini cukup lembek, sehingga keberadaan talud sangat penting agar jalan tidak mudah rusak atau longsor,” ujar Kapten Ariep.

Meski proses pengerjaan cukup berat, pembangunan berjalan lancar berkat kerja sama antara Satgas TMMD dan masyarakat sekitar. Warga ikut aktif membantu dalam pengerjaan, menunjukkan semangat gotong royong yang tinggi.

“Dengan dukungan masyarakat dan unsur terkait, pengerjaan talud berjalan sesuai dengan progres yang direncanakan,” tambahnya.

Kapten Ariep berharap talud yang dibangun ini dapat memperkuat struktur jalan dan memperpanjang masa pakainya, sehingga bermanfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang. (Hardin CN)