Cegah Kekerasan, Satgas TMMD ke 121 Gandeng DP3KB Halsel Berikan Penyuluhan Perlindungan Perempuan dan Anak

HALSEL, CN – Meningkatnya jumlah angka kekerasan rumah tangga dan pelecehan seksual terhadap anak-anak dan Perempuan di Wilayah Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara (Malut), Satgas TMMD ke 121 Kodim 1509/Labuha menggandeng Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3KB) Halsel memberikan materi penyuluhan tentang pemahaman Perlindungan Perempuan dan anak kepada warga dan para Remaja yang memasuki usia siap menikah

Penyuluhan tersebut dikemas dalam satu kegiatan program Non Fisik TMMD ke-121 Kodim 1509/Labuha, bertempat di Desa Dolik, Kecamatan Gane Barat Utara, Rabu (21/8/2024).

Karima Nasarudin yang sebagai Pemateri dan juga seorang Ibu Persit serta menjabat Kepala DP3AKB Halsel mengaku masih banyak permasalahan rumah tangga yang dialami warga di kampung.

Dikatakannya, banyak sekali kasus pelecehan dan kekerasan terhadap Perempuan dan Anak dibawah umur.

“Inilah alasan mengapa kita hadir untuk memberikan pengetahuan kepada seluruh masyarakat, jika kekerasan dan pelecehan seksual itu mengandung unsur Pidana,” ujarnya.

Selain itu, warga juga kurang memahami dampak permasalahan dan solusi dalam menyikapi masalah rumah tangga. Untuk itu, kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak ada lagi dan jangan terjadi lagi.

”Kehadiran TMMD dengan program fisik dan non fisik, tentunya sangat tepat. Karena melalui salah satu program non fisik, kita dapat memberikan pemahaman dan membantu warga dalam memelihara keutuhan rumah tangannya dan apa yang harus mereka lakukan saat saat menghadapi kejadian seperti yang kita maksud,” kata Karima.

Sedangkan Dansatgas TMMD ke 121/Labuha Letkol Kav Romy Sitompul menyampaikan bahwa masyarakat biasanya rata-rata masih mengabaikan perihal tentang KDRT dan perlindungan anak.

“Biasanya masyarakat menganggap permasalahan dalam keluarga rata-rata masih berkaitan dengan memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, dan pernikahan diusia dini,” jelas Dansatgas.

Yang menjadi pembahasan menarik dari penyuluhan ini adalah terkait permasalahan selingkuh dalam rumah tangga dan mabuk oleh minuman alkohol. Sehingga menimbulkan dampak negatif seperti Kekerasan terhadap Perempuan dan anak maupun Pelecehan seksual,

“Ini disebabkan banyak warga khususnya perempuan yang tidak tahu menahu dan seringkali menjadi korban. Karena itu, program non fisik TMMD tahun 2024, bekerjasama dengan Kejaksaan,” tutur Letkol Kav Romy Sitompul. (Hardin CN)

TPPS DP3KB Halsel Gelar Go To School

HALSEL, CN – Pemerintah Daerah (Pemda), Kabupaten halmahera selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara (Malut), terus berupaya mendorong masyarakat untuk berperan dalam menekan kasus Stunting di wilayahnya.

Kali ini, Tim Percepatan Penanganan Stunting (TPPS) Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Halsel, menggelar Go To School dengan kegiatan audit kasus stunting di SMA Negeri 1 Halsel, Jumat (19/7/2024).

Kegiatan tersebut dihadiri langsung istri Bupati Halsel yang juga wakil ketua III TPPS Halsel, Bunda Rifa’at Al Sa’adah Bassam, Kepala DP3AKB Halsel Karima Nasaruddin, duta genre Indonesia Maluku Utara tahun 2023, Mudrika Abd Asis Adji serta tim satgas stunting Provinsi Maluku Utara dan ratusan siswa siswi SMAN 1 Halsel.

Bunda Gendre Rifa’at Al Sa’adah Bassam dalam sambutannya, memberikan edukasi kepada pelajar agar tetap menerapkan makan dengan pola gizi seimbang.

“Sangat perlu bagi Kalian (pelajar) untuk mendapatkan pendidikan parenting juga pemahaman kesehatan serta pemahaman akan pentingnya penerapan makan dengan pola gizi seimbang,”jelasnya.

Sementara itu, Kepala DP3AKB Halsel, Karima Nasaruddin mengatakan, dengan Senyum Berkelanjutan Wujudkan Negeri Saruma Zero Stunting. Pihaknya menilai pelajar harus mendapatkan edukasi terkait pola hidup mereka.

“Sebagian besar remaja belum menerapkan pola makan dengan gizi seimbang. Mereka lebih banyak mengonsumsi makanan yang sifatnya instan. Buah-buahan dan sayur-sayuran jarang mereka konsumsi, hal mana itu menyebabkan asupan vitamin dan gizi yang dibutuhkan oleh remaja tidak dapat terpenuhi, sehingga edukasi ini sangat penting untuk mencegah stunting,” tegasnya. (Hardin CN)