Sekjen APRI Marah, Program CSR Lingkar Tambang Di Pulau Obi Aba-Abal

HALSEL, CN – Sekertaris Jenderal Asosiasi Pertambangan Rakyat Republik Indonesia (Sekjed APRI-RI) Imran S. Malla marah, terkait soal program Corporate Social Responsibility (CSR) Lingkar Tambang di Pulau Obi, Kab. Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara (Malut) Abal-abal. (18/05/2021)

Sekjen APRI RI Imran S. Malla, Bukan saja mengurus nasib para Penambang Rakyat, namun beliau juga prihatin dengan nasib petani, hal ini saat Imran pulang kampung lebaran bersama keluarga.

Imran banyak mendapat laporan dan keluhan masyarakat soal program CSR, keluhan itu datang dari masyarakat petani, yang mempersoalkan tentang masalah program  CSR di bidang  pertanian. Karena mereka menganggap bahwa perusahan selama beroperasi di pulau obi, tidak pernah ada kontribusi terhadap masyarakat lingkar tambang di 9 Desa khususnya program pemberdayaan pertanian.

Mendapat laporan serta keluhan dari masyarakat, Imran menyita waktunya dan bertandang ke lokasi lahan pertanian, yang berlokasi di Desa Jikotamo, Kec. Obi. Sampai di lokasi pertanian, Imran langsung berkelililing di perkebunan sambil berbincang dengan petani.

Dari Bincang-bincang tersebut, petani mempersoalkan infomasi yang beredar di masyarakat terkait dengan adanya program CSR di bidang pertanian yang di mana diketahui perusahan telah melakukan pemberdayaannya lewat program CSR ke petani 9 Desa Lingkar tambang.

Walhasil dari bincang-bincang itu, ternyata pihak perusahan belum pernah melakukan pemberdayaan serta memberikan bantuan kepada petani lingkar tambang, tetapi informasi yang beredar di masyarakat bahwa program CSR bidang pertanian telah berjalan.

Masyarakat juga menyampaikan kepada Imran, lahan pertanian yang mereka garap itu memakai anggaran pribadi. bukan melalui program CSR, yang sebagaimana seperti informasi yang beredar sekarang ini.

Begitu juga keluhan petani soal hasil tanaman yang mereka garap itu terjadi gagal panen, karena market yang mereka harapkan itu dari perusahan, sehingga tidak dapat di pasarkan. Kalau adanya program pemberdayaan perusahan lewat CSR, maka hasil pertanian yang mereka panen sudah bisa di pasarkan ke perusahan. sehingga mereka memastikan setiap bulan lahan pertanian yang mereka garap bisa bernilai ekonokis.

Hasil pertanian yang di garap itu adalah tanaman sayur-mayur seperti Kangkung, Kacang Panjang, terong, Sawi Hijau, Pacoi, Lobak, Cabe Keriting, Cabe Rawit, Tomat dan masi banyak lagi hasil tanam yang mereka garap. Supaya bisa memenuhi kebutuhan pokok stok logistik bahan makan.

Dari amanat wartawan cerminnusantara.co.id di lokasi pertanian masyarakat, bahwa hasil pertanian yang di garap itu banyak yang gagal panen, sebab tidak ada market itu kata petani. kalau ada program CSR seperti informasi yang mereka terima terkait soal pemberdayaan di bidang pertanian, sudah pasti hasil pertanian masyarakat dapat dipasarkan ke perusahan lewat program pemberdayaan itu, sehingga hasil pertanian yang mereka garap dapat menghidupkan roda ekonomi pertanian di wilayah lingkar tambang.

Masyarakat juga menyampaikan bahwa para kepala-kepala Desa, di 9 Desa  yang masuk dalam Desa Lingkar Tambang serta pemerintah kecamatan pernah melakukan pertemuan dengan pihak perusahan membahas soal program CSR yang salah satunya pemberdayaan pertanian, dan hasil pertanian dapat dinasukan ke perusahaan lewat program pemberdayaan itu. Dan pihak perusahan sudah menyetujui serta membuat kesepakatan, namun pada kenyataan di lapangan nihil entah kenapa.

Masyarakat juga pertanyakan soal lokasi pemberdayaan pertanian yang perusahan maksudkan itu di lokasi mana, karena informasi yang beredar bahwa program pemberdayaan CSR telah berjalan. Sehingga perusahan selalu gembor-gemborkan lewat media sosmed.

Kepada wartawan cerminnusantara.co.id Sekjen APRI Imaran S. Malla menyampaikan bahwa “sangat di sayangkan jika informasi yang beredar di masyarakat lingkar tambang perusahan sudah melakukan program pemberdayaannya, saya sangat prihatin dengan informasi itu” ungkap Imran

Lanjut Imran semestinya Program CSR itu di sosialisasikan ke masyarakat, undang semua lapisan masyarakat dan pemerintah baik itu Pemerintah Desa maupun Kecamatan barulah di tetapkan programnya semisalnya di Desa Laiwui masyarakat maunya program di bidang apa, terus juga Desa-desa tengga maunya bagaimana, harus  direncanakan seperti itu bukan bikin program abal-abal yang masyarakat tidak ketahui kejelasannya” pungkas dia sambil marah

Sambung dia “kalau program CSR seperti  ini, saya takutkan masyarakat di jadikan  kambing hitam sebab laporannya yang masuk ke pusat mantap dan ok, namun programnya pada kenyataan di lapangan nihil, Jadi saya selaku putra darah saya juga prihatin dan akan kawal hal ini di pusat” tutur Imran. (Red/CN)

Jajaran Babinsa Kodim 1509/Labuha Jemput Bola dan Fasilitasi Para Purnawirawan Ikut Vaksinasi

HALSEL, CN – Babinsa jajaran Kodim 1509/Labuha melakukan jemput bola dengan mendatangi para Purnawirawan TNI yang telah Lansia agar bisa ikut Vaksinasi. Tak hanya menjemput, para Babinsa Jajaran pun memfasilitasi para Purnawirawan untuk bisa mendatangi fasilitas kesehatan, seperti Puskesmas yang ada di masing-masing Kecamatan yang ada di wilayah Koramil Jajaran, Selasa (18/5/2021).

Hal itu menunjukkan kepedulian Personil Babinsa Kodim 1509/Labuha kepada para Purnawirawan yang merupakan keluarga Besar TNI meski mereka tak berdinas lagi.

Dengan hadirnya Babinsa di rumah para Purnawirawan, bisa memberikan penjelasan tentang program Pemerintah untuk vaksinasi yang diperuntukkan para Lansia.

Sebelum dilakukan Vaksinasi, para Purnawirawan di observasi kesehatan terlebih dahulu, agar mengetahui kesehatan para Purnawirawan. Setelah dilakukan Observasi kesehatan, maka bisa dinyatakan layak atau tidak layak Vaksinasi.

Sebab, tidak semua Lansia bisa dilakukan vaksinasi atau tidak memenuhi kriteria penerima Vaksinasi dikarenakan ada beberapa penyakit yang atau kondisi penerima Vaksinasi.

“Alhamdulillah semoga dengan kegiatan ini bisa semua Purnawirawan divaksinasi dan kita juga mengetahui segi kesehatan para Purnawirawan yang juga merupakan Keluarga besar TNI. Kita sebagai penerus para Purnawirawan pun berkewajiban menjaga dan membantu para sesepuh, kita hadir untuk mereka, itu artinya Negara Hadir antara mereka. Maka dengan itu, kodim 1509/Labuha pun mengerahkan para babinsa jajaran agar bisa menjemput dan memfasilitasi Kegiatan Vaksinasi dengan bekerja sama dengan pihak Dinas Kesehatan khususnya Puskesmas,” tukas Dandim 1509/Labuha Letkol Inf Untung Prayitno.S.I.P.,M.Han. (Red/CN)

4 Tahun, Kantor Desa Gunange Halsel Belum Difungsikan

HALSEL, CN – Kantor Desa Gunange Kecamatan Kayoa Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) Maluku Utara, belum bisa difungsikan karena diduga pemerintah desa setempat belum membayar upah kerja tukang yang membuat bangunan tersebut.

Sebagai protes, pintu kantor Desa kemudian dipalang oleh pekerja bangunan dan hanya bisa dibuka apabila Pemerintah Desa membayar upah pekerja.

Akibatnya, kantor Desa Gunange tidak aktif selama 4 tahun sejak selesai dikerjakan.

Informasi yang dihimpun media ini, jumlah pekerja yang upahnya belum dilunasi sebanyak 7 orang dengan total Rp10.200.000,-.

Salah satu pekerja kantor desa, Anwar meminta agar upah kerja segera dilunasi kepada seluruh pekerja bangunan yang mengerjakan kantor desa.

Menurut dia, kantor Desa Gunange yang dipalang tidak bisa difungsikan selama upah kerja belum dilunasi.

“Selesaikan upah kerja baru bisa difungsikan,” kata Anwar menegaskan, seperti dikonfirmasi pada, Sabtu (15/5/2021).

Kata dia, pekerja yang belum menerima upah sebanyak 3 orang, dan jumlah seluruh upah kerja yang harus dilunasi berjumlah Rp9.000.000.

Sementara itu, menurut pekerja lainnya Jon Hardin mengatakan bahwa jika dihitung dengan pekerja harian maka total pekerja yang belum menerima upah sebanyak 6 orang.

Sementara menurut Hayup, pekerja lainnya mengatakan bahwa upah kerja miliknya juga belum dibayar, yaitu sebanyak Rp1.200.000.

Kepala Desa Gunange, Den Muhajir, saat dimintai keterangan menyebutkan bahwa dirinya tidak mengetahui masalah tersebut dengan sebenarnya. Karena kata dia, penanggungjawab proyek kantor Desa pada waktu itu adalah Mantan Pj Kades Gunange, Farid A. Samud.

“Ini kan dong pe urusan deng pejabat, jadi tong tara tau sebenarnya. Dia (Anwar) musi pi di farit, trus minta farit dia pe tanggapan bigimana,” katanya.

Menurut Kades, dirinya sudah berkoordinasi dengan Mantan Pj Kades Gunange, Farid A. Samud, untuk mencari jalan keluar yang terbaik terhadap masalah upah.

“Jadi saya sudah komunikasi dengan Farit, saya sudah koordinasi dengan Farid, cuman dia bilang so lunas, baru anwar bilang belum. Kalau anwar bilang belum kan ada jalur hukum jadi sebaiknya masalah ini dibawa ke jalur hukum, lapor polisi saja,” tukas Kades.

Hingga berita ini dipublish, awak media dalam upaya untuk mengkonfirmasi Mantan Pj Kades Gunange, Farid A. Samud. (Ridal/CN)

Diduga Gelapkan Anggaran DDS 600 Juta, Kapolres Halsel Didesak Periksa Kades Laluin

HALSEL,CN– Kepala kepolisian resort (Kapolres) Halmahera Selatan di Desak periksa kepala Desa Laluin kecamatan kayoa selatan, Fiky salamat karena yang bersangkutan di duga kuat Gelapkan anggaran Dana Desa (DDS) tahun 2020 senilai 600 juta rupiah.

Desakan ini di sampaikan oleh Ketua Devisi investigasi, Lembaga swadaya masyarakat (LSM) Front Delik anti korupsi (FDAK) kabupaten Halmahera selatan, Safrudin Ibrahim, kepada wartawan, Sabtu (15/03/2021) Melalui saluran teleponnya mengatakan Dana Desa (DDS) tahun 2020 kades Laluin Fiky salamat telah mengaggarkan anggaran sebesar 600 juta untuk pembuatan perahu katinting sebanyak 50 unit namun pengadaan perahu katinting tersebut Gagal di kerjakan oleh kades Laluin Fiky salamat.

olehnya itu pihaknya mendesak Kapolres Halmahera Selatan melakukan pemeriksaan terhadap kades Laluin kecamatan kayoa selatan Fiky salamat atas dugaan kasus korupsi Dana Desa (DDS) pembuatan perahu Fiber bantuan untuk Masyarakat Nelayan Desa Laluin tahun 2020 senilai 600 juta karena perahu fiber yang di berikan oleh kades laluin tersebut tidak bisa di gunakan karena belum selesai di kerjakan. pintahnya.

berdasarkan data yang di himpun oleh media ini nama-nama penerima bantuan sudah di data lebih awal hanya saja nama awal penerima bantuan yang di data itu di coret karena di curigai memilih calon Bupati dan wakil Bupati Halsel, usman-Bassam, dan perahu fiber yang di kerjakan tersebut tidak layak di gunakan karena gagal di kerjakan oleh para pekerja fiber bantuan katinting tersebut olehnya Kapolres Halsel patut melakukan pemeriksaan terhadap kades Laluin Fiky salamat. (Red/CN)

Masyarakat Desa Jikotamo Sholat Idul Fitri di Masjid Raya

HALSEL, CN – Walaupun progres bangunan masi mencapai  60%, Masyarakat Desa Jikotamo Kec. Obi, Kab. Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara (Malut), sudah bisa melaksanakan Sholat Idul Fitri di masjid raya.

Masjid yang berkapasitas tampung kurang lebih 700 makmum dan mukmin itu pembangunan telah mencapai progres 60%, kini sudah bisa di gunakan sholat idul fitri walaupun masih dalam tahap pembangunan.

Informasi yang di himpun media cerminnusantara.co.id, realisasi pembangunan masjid anggaran tahap pertama berasal dari Dana Aspirasi DPRD Halsel sebesar Rp. 400.000,000,- (Empat ratus juta rupiah) dan Anggaran APBD sebesar Rp. 600.000,000,- (Enam ratus juta rupiah) sehingga total anggaran sebesar Rp. 1. 000,000,000,-. (Satu milyar rupiah)

Namun dalam tahap pembangunan ini terdapat struktur bangunan yang tidak layak di gunakan dan akan ber dampak pada masyarakat, dalam studi kelayakan sesuai evaluasi proyek yang dilakukan tukang tersebut, tidak layak untuk digunakan struktur bangunan itu. Tahap pertama dengan meraup anggaran sebesar Rp. 400.000,000,-. Pembangunan di lakukan hanya terdapat beberapa mata item pembangunan yakni pekerjaan Penimbunan pelebaran lokasi masjid, Pondasi dan pekerjaan kolom beton.

Pada tahap ke dua pembangunan masjid juga menelan anggaran sebesar Rp. 600.000,000,- dengan mata item pekerjaan yakni, pekerjaan Rink Balok, Pengecoran Dek, dan pekerjaan dinding masjid. Akan tetapi pembangunan yang meraup total anggaran sebesar Rp. 1.000,000,000,- struktur bangunannya tidak layak untuk di gunakan.

Kepada wartawan cerminnuaantara.co.id salah satu tokoh masyarakat Desa Jikotamo yang tidak mau di korankan namanya ini memberikan keterangan “bangunan masjid sudah mencapai progres 60% dan berkapasitas tampung makmum dan mukmin itu sekitar 700 orang” kata dia

lanjut dia “pembangunan tahap pertama dan tahap kedua struktur bangunannya tidak layak sesuai analisa tukang sehingga pada tahap ketiga pembangunan lewat anggaran Swadaya ini bangunan tersebut dapat di rehab ulang, sehingga di idul Fitri kali ini masyarakat sudah bisa menikmati untuk melakukan sholat berjamaah di masjid raya” ungkapnya

Dalam pembangunan tahap ketiga menggunakan anggaran Swadaya, Panitia Pembangunan Masjid dan Masyarakat juga berharap agar Pemerintah Daerah dan pihak swasta yang ada di pulau Obi dapat mengulurkan tangan membantu pembangunan masjid ini agar pembangunan bisa selesai 100%

“Pembangunan masjid ini baru mencapai progres 60% jadi masi butuh progres 40% lagi sehingga selesai 100%, untuk itu kami juga masi membutuhkan uluran tangan baik Pemerintah maupun pihak swasta untuk dapat membantu” tutur dia. (Red/CN)

Seorang Wanita Diduga Dianiaya Sang Kekasih Dilaporkan ke Polres Halsel

HALSEL, CN – Seorang wanita berinisial FY (33) asal Desa Gagala Kecamatan Mandioli Selatan Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) Provinsi Maluku Utara (Malut) diduga kuat dianiaya sang Kekasih bernama Sadam (32) di Kamar Kos FY jalan Tomori Kecamatan Bacan. Tubuh Wanita tersebut penuh lebam.

FY dianiaya pada Kamis (14/5/2021) Malam sekitar pukul 08:30 WIT. Pelaku penganiayan tersebut asal Desa Kusubibi Kecamatan Bacan Barat.

Kepada wartawan cerminnusantara.co.id, Jumat (14/5) Fadila mengaku bahwa pelaku penganiayan merupakan pacarnya sendiri.

“Saya dengan Sadam memiliki hubungan pacaran,” aku Fadila.

Fadila adalah seorang Janda memiliki 1 anak cewek berusia 3 Tahun.

Fadila bilang, ia dianiaya oleh Sadam tanpa alasan. Padahal sebelumnya, Fadila bersama anaknya keluar dari kamar Kos karena hari raya lebaran Idul Fitri untuk jalan-jalan ke Keluarga. Namun saat balik ke Kos, ia dianiaya di depan anaknya.

“Saya di pukul didepan anak saya, sehingga anak saya takut dan menangis. Saya di pukul di Telinga dan Tangan Kanan dan badan bagian belakang hingga bengkak,” ungkapnya.

Setelah dianiaya, Fadila bersama salah seorang temannya melaporkan dugaan penganiayaan tersebut di Polres Halsel.

“Karena teman yang juga pangkat kakak sepupu saya itu melihat dan merasa kasihan ke saya, langsung dia mengajak saya dan pada malam itu juga langsung ke Polres Halsel untuk lapor Sadam dan di malam itu juga langsung saya di Visum di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Labuha,” cetus Fadila.

Hingga berita ini dipublish, belum dikonfirmasi ke Polres Halsel. (Red/CN)