Mina dari Orimakurunga, Kini Resmi Jabat Kepsek MIN 3 Halsel

HALSEL, CN – Di balik sunyi Desa Wayamiga dan gelombang rindu Orimakurunga, kini bersinar nama baru, Rusmina Hamja, perempuan muda yang mengukir sejarah dengan lembut menjadi Kepala Sekolah (Kepsek) Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara (Malut).

Mina, begitu ia disapa, adalah bayang semangat dari Kayoa Selatan yang kini menyala terang di Bacan Timur. Bukan sekadar jabatan, kepemimpinannya adalah pertanda bahwa dunia pendidikan tak lagi hanya milik mereka yang lantang, tapi juga bagi mereka yang tulus dan sabar.

Sebagai salah satu Kepsek perempuan termuda di Halsel, Mina hadir bak embun pagi menyejukkan, menyemangati dan memekarkan harapan di hati murid-muridnya.

MIN 3 Halsel kini punya cahaya baru alias nahkoda baru. Seorang ibu yang tak hanya membacakan huruf hijaiyah, tapi juga mengeja masa depan dengan kasih dan keteladanan.

“Selamat buat kalian berdua besti-bestiku. Masya Allah, selamat menjalankan tugas semoga amanah. Kepsek MIN 2 Halsel Rita Adnan, Kepsek MIN 3 Halsel Rusmina Hamja,” ucapan selamat Fahria Ajudin, teman dekat Rusmina Hamja, Senin 4 Agustus 2025.

Sebagai salah satu Kepsek perempuan termuda di Halsel, Mina juga mengukir inspirasi bagi generasi perempuan yang memimpikan tempatnya sendiri di ruang-ruang pengabdian.

Kepada wartawan cerminnusantara.co.id, Mina mengatakan, MIN 3 Halsel bukan sekadar madrasah, tapi taman ilmu yang harus dirawat bersama. Ia ingin menjadikan tempat ini bukan hanya tempat belajar, tapi tempat tumbuh untuk murid, guru, dan juga dirinya sendiri.

“Saya percaya, jika niat kita tulus dan langkah kita jujur, maka sekecil apa pun pengabdian, akan memberi arti besar. Mohon doa dan dukungan. Karena saya tidak bisa berdiri sendiri. Tapi bersama, kita bisa menciptakan madrasah yang tidak hanya cerdas, tapi juga berakhlak,” ungkap Mina dengan mata berkaca-kaca usai resmi dilantik menjadi Kepsek MIN 3 Halsel di Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Malut.

Mina kemudian menceritakan bahwa dirinya bukan siapa-siapa, yang hanya berstatus anak kampung yang saat ini diberikan kesempatan untuk menjabat sebagai Kepsek MIN 3 Halsel.

“Saya bukan siapa-siapa, hanya anak kampung dari Orimakurunga yang diberi amanah besar. Jabatan ini bukan soal bangga, tapi tanggung jawab untuk melayani,” ujarnya.

Ia berharap, MIN 3 Halsel bisa menjadi madrasah yang bukan hanya mencetak siswa yang pintar membaca dan berhitung, tapi juga anak-anak yang lembut hatinya, kuat imannya, dan tinggi cita-citanya.

“Saya ingin melihat madrasah ini tumbuh menjadi tempat yang ramah, penuh semangat, dan menjadi cahaya bagi lingkungan sekitar. Semoga langkah kecil saya ini membawa manfaat besar. Dan semoga Allah SWT selalu meridhoi setiap ikhtiar yang kami jalani di jalan pendidikan,” harap Mina sambil tersenyum dan menghapus air mata. (Hardin CN)

TMMD ke-125 Kodim 1509 Labuha Kebut Drainase Penyelamat dari Gunung Kie Besi

HALSEL, CN – Meski diterpa hujan dan panas, pembangunan saluran drainase atau parit semen sepanjang 80 meter yang menjadi salah satu sasaran fisik dalam kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-125 Kodim 1509/Labuha terus dikebut pengerjaannya.

Kegiatan yang berlangsung di Desa Talapao, Kecamatan Makian Barat, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara (Malut), ini mendapat sambutan antusias dari warga. Mereka telah lama mengharapkan adanya sistem pengairan yang memadai untuk mengatasi aliran air hujan dari arah Gunung Kie Besi. Selama ini, air yang mengalir deras terus mengikis pondasi dan mengancam rumah-rumah warga yang berada di sepanjang jalur aliran.

Pembangunan saluran drainase ini merupakan bagian dari upaya Kodim 1509/Labuha bersama Pemerintah Daerah Halmahera Selatan dalam mempercepat pembangunan infrastruktur desa demi mewujudkan ketahanan lingkungan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Dansatgas TMMD ke-125, Letkol Inf Syamsul, menegaskan pentingnya pembangunan saluran tersebut.

“Saluran drainase ini bukan sekadar proyek fisik, tetapi investasi jangka panjang untuk kesehatan lingkungan dan keselamatan warga. Kami optimis dapat menyelesaikannya tepat waktu sebelum penutupan TMMD,” ujarnya.

Warga Desa Talapao, terutama yang tinggal di sepanjang jalur pembangunan, mengaku sangat terbantu dengan adanya proyek ini.

“Dulu kalau hujan deras, air menggenang dan merusak jalan. Sekarang sudah mulai kelihatan bagus, dan kami yakin ini akan sangat membantu,” ujar Pak Andro Bintang, salah satu warga yang juga ikut terlibat dalam kegiatan gotong royong.

Pembangunan ini melibatkan 115 personel TNI, 5 anggota Polri, 2 pegawai Pemda, dan 15 warga setempat. Meski hanya menggunakan peralatan sederhana seperti cangkul, sekop, plengki, dan angkong, semangat kebersamaan menghasilkan progres kerja yang luar biasa.

TMMD ke-125 di Kecamatan Makian Barat menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara TNI dan rakyat mampu menghadirkan perubahan signifikan, sekaligus memperkuat kemanunggalan demi pembangunan desa yang tangguh dan berkelanjutan. (Hardin CN)

Buka Pelatihan Bahasa Mandarin, Harita Nickel: Bagian dari Strategi Besar Kami

HALSEL, CN – Di tengah geliat industri nikel yang kian kompetitif dan terbuka terhadap investasi asing, Harita Nickel kembali mengambil langkah strategis dalam pemberdayaan generasi muda. Melalui program Peningkatan Keahlian dan Keterampilan Pemuda (PELITA) yang kini memasuki batch ketiga, perusahaan ini mengarahkan fokus pelatihan pada kemampuan berbahasa Mandarin, bahasa yang kini memegang peranan penting dalam komunikasi industri global, Kamis (31/7/2025).

Setelah dua angkatan sebelumnya berhasil mencetak puluhan tenaga kerja terampil di bidang teknis, seperti operator wheel loader dan overhead crane, kali ini Harita Nickel mempersiapkan pemuda dari Desa Soligi dan Kawasi untuk menghadapi tantangan yang lebih global: komunikasi lintas budaya.

“PELITA bukan sekadar pelatihan keterampilan, tapi bagian dari strategi besar kami dalam membekali pemuda lokal dengan kemampuan yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini. Kami ingin mereka punya daya saing, bukan hanya di tingkat lokal, tapi juga nasional bahkan internasional,” ujar Ifan Farianda, Community Development Manager Harita Nickel.

Pemilihan bahasa Mandarin sebagai fokus pelatihan bukan tanpa alasan. Seiring meningkatnya kolaborasi dengan mitra kerja dari Tiongkok, komunikasi menjadi salah satu tantangan utama di lapangan. Harita Nickel merespons hal ini dengan membangun kapasitas anak-anak muda di sekitar wilayah operasionalnya.

“Bahasa Mandarin kini menjadi salah satu bahasa internasional paling strategis. Tenaga kerja lokal yang bisa menjembatani komunikasi tentu sangat dibutuhkan,” lanjut Ifan.

Untuk menyelenggarakan pelatihan ini, Harita Nickel menggandeng lembaga pelatihan bahasa berbasis di Jakarta yang juga memiliki jejaring internasional di Singapura. Program ini akan berlangsung selama 6 hingga 7 bulan, dengan materi mencakup 3 level sertifikasi HSK (Hanyu Shuiping Kaoshi), HSK 1, HSK 2, dan HSK 3, standar internasional dalam penguasaan bahasa Mandarin.

Sebanyak 30 peserta terpilih dari Desa Soligi dan Kawasi mengikuti pelatihan ini. Mereka dibagi dalam 2 kelompok utama yakni kelas reguler untuk lulusan SMA yang belum bekerja, serta kelas pelajar untuk siswa SMA kelas dua dan tiga. Strategi ini, menurut Ifan, bertujuan memberikan bekal sejak dini sebelum para peserta masuk ke dunia kerja atau melanjutkan studi ke luar negeri.

“Target kami adalah agar peserta dapat mencapai HSK level 3. Dengan sertifikasi ini, mereka sudah mampu melakukan komunikasi dasar di lingkungan kerja, termasuk sebagai penerjemah pemula atau staf administrasi,” jelasnya.

Suksesnya program ini tak lepas dari dukungan banyak pihak. Ifan menekankan pentingnya sinergi antara perusahaan, pemerintah Desa, dan keluarga peserta.

“Kami percaya, jika semua elemen bekerja sama, hasilnya akan nyata. Pemuda yang lebih siap, lebih percaya diri, dan lebih berdaya,” tukasnya.

Melalui program PELITA, Harita Nickel tidak hanya membangun kompetensi individu, tetapi juga membawa Desa-desa pesisir di Pulau Obi menuju peta ekonomi global yang lebih luas. (Hardin CN)

Kisah Pilu Nurdiana, Anak 13 Tahun Pengidap Hidrosefalus di Desa Babang

HALSEL, CN – Namanya Nurdiana Baadia, kisah pilu seorang anak perempuan berusia 13 tahun asal Desa Babang, Kecamatan Bacan Timur, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara (Malut). Di usia yang seharusnya dipenuhi tawa dan riang bermain, ia justru hanya bisa terbaring lemah di atas kasur, menanti keajaiban yang belum juga datang.

Sejak berusia 2 bulan, Nurdiana mengidap penyakit hidrosefalus, penumpukan cairan di rongga otak yang menyebabkan kepalanya terus membesar dari waktu ke waktu. Penyakit itu bermula dari demam tinggi di usia 1 bulan, diikuti kejang-kejang yang membuatnya harus dilarikan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Labuha.

Setelah sempat membaik dan pulang ke rumah, orang tuanya mulai menyadari perubahan tak biasa di kepala anak mereka. Jidatnya terlihat menonjol dan kepala membesar secara tidak wajar. Nurdiana kemudian dirujuk ke RSUD Chasan Boesoirie Ternate untuk menjalani operasi. Namun, keterbatasan ekonomi membuat harapan itu pupus di tengah jalan.

“Kami tidak punya uang, jadi kami pulang dan rawat dia di rumah seadanya,” tutur sang ibu, Alwia Arajang, dengan suara yang nyaris tak terdengar, Sabtu (26/7/2025).

Meski telah berulang kali mencoba membawa putri kecil mereka ke Rumah Sakit (RS), pasangan Alwia dan Lajuma Baadia akhirnya pasrah, merawat Nurdiana dengan kemampuan terbatas. Tahun demi tahun berlalu, dan kini sang anak hanya bisa diam, memandangi dunia dari sudut kamarnya.

Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Nursina Syamsuddin, yang turut mendata kondisi Nurdiana, mengungkapkan bahwa keluarga ini benar-benar membutuhkan uluran tangan.

“Mereka sudah berusaha semampunya. Sekarang mereka hanya bisa berharap ada bantuan untuk biaya pengobatan, agar Nurdiana punya kesempatan sembuh dan hidup lebih layak,” ujarnya lirih.

Kisah Nurdiana adalah potret pilu dari pelosok negeri yang masih terpinggirkan. Di balik senyap Desa, ada suara hati yang tak terdengar, seorang anak yang menunggu secercah harapan untuk hidup normal seperti anak-anak lainnya. (Hardin CN)

TMMD Bangun Talud di Makian Barat, Antisipasi Longsor dan Erosi

HALSEL, CN – Salah satu program kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-125 Kodim 1509/Labuha adalah pembangunan talud penahan badan jalan di Desa Bobawa, Kecamatan Makian Barat, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara (Malut), Jumat (25/7/2025).

Proyek pembangunan dinding penahan tanah ini bertujuan untuk mencegah erosi dan longsor, serta meningkatkan stabilitas tanah di wilayah pedesaan yang rawan bencana.

Dan SSK Kapten Arm Ariep Hamdi menjelaskan bahwa pembangunan talud memiliki fungsi yang sangat vital. Talud berperan sebagai penahan tanah, terutama saat hujan lebat yang bisa memicu erosi atau longsor di jalan yang baru dibuka.

“Tanah di lokasi ini cukup lembek, sehingga keberadaan talud sangat penting agar jalan tidak mudah rusak atau longsor,” ujar Kapten Ariep.

Meski proses pengerjaan cukup berat, pembangunan berjalan lancar berkat kerja sama antara Satgas TMMD dan masyarakat sekitar. Warga ikut aktif membantu dalam pengerjaan, menunjukkan semangat gotong royong yang tinggi.

“Dengan dukungan masyarakat dan unsur terkait, pengerjaan talud berjalan sesuai dengan progres yang direncanakan,” tambahnya.

Kapten Ariep berharap talud yang dibangun ini dapat memperkuat struktur jalan dan memperpanjang masa pakainya, sehingga bermanfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang. (Hardin CN)

Dipastikan Tak Ada DOB Sofifi, Sultan Tidore: Jangan Karena Sepotong Kue Kekuasaan

TIDORE, CN – Dari tanah tua yang sarat sejarah, suara Sultan Tidore Kepulauan, Husain Alting Sjah, mengalir lembut namun menohok. Dalam sebuah video yang tersebar di media sosial Facebook, ia menyampaikan sikap tegas usai bertemu langsung dengan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Jenderal (Purn.) Tito Karnavian, di Jatinangor, tempat para abdi negara ditempa.

“Saya berada di lokasi IPDN Jatinangor, menghadiri wisuda angkatan ke-32. Dan wisudawan tadi dihadiri juga oleh Menteri Dalam Negeri, Bapak Jenderal Muhammad Tito Karnavian,” ujar Sultan dengan nada tenang yang menyimpan dalamnya luka tanah kelahiran, Rabu (23/7/2025).

Dalam pertemuan itu, Sang Sultan tak membawa ambisi, hanya kegelisahan. Ia tidak datang untuk menyodorkan syarat kekuasaan, tapi menyuarakan suara bumi Maloku Kie Raha, yang hari ini dihantam riuh wacana pemekaran.

“Dan Alhamdulillah, beliau (Tito Karnavian) merespon dan beliau mengatakan bahwa berbicara tentang Daerah Otonom Baru, yang berkaitan dengan pemekaran-pemekaran khusus Kota Madya di Maluku Utara, sampai saat ini belum ada,” tukasnya.

Namun lebih dari sekadar menyampaikan, Sultan menyatakan bahwa Kemendagri Tito Karnavian menegaskan tidak akan ada DOB Sofifi.

“Dan beliau pastikan, insya Allah tidak akan ada. Karena memang, ada faktor anggaran dan seterusnya. Sehingga masih membutuhkan proses waktu yang sangat panjang,” kata Sultan Tidore atas pengakuan Tito Karnavian.

Meski begitu, sikap Sultan adalah panggilan nurani dari seorang pemimpin adat yang masih memeluk tanah leluhurnya dengan kasih, bukan nafsu. Ia tidak ingin Maluku Utara (Malut) terpecah oleh janji manis yang belum tentu datang, apalagi jika itu berarti mengorbankan kedamaian dan persatuan.

“Dan oleh karena itu, beliau meminta kepada kita semua untuk menahan diri, kemudian bersabar, berada dalam posisi sebagai warga negara yang baik, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” pinta Sultan, menyampaikan pesan Mendagri Tito Karnavian kepada seluruh masyarakat Maluku Utara.

Sehingga itu, di tengah gejolak yang mengguncang Sofifi dan sekitarnya, suara Sultan adalah pelita di malam gelap. Bukan kobaran amarah, tapi ratapan cinta tanah air yang terluka, dan tetap memilih sabar, demi utuhnya negeri.

“Jangan karena sepotong kue kekuasaan, kemudian dengan Daerah Otonomi Baru, membuat kita bersengketa dan memecah belah kita semua. Dan itu akan kita rugi. Sehingga, beliau (Tito Karnavian) mengatakan bahwa untuk jangka waktu yang agak lama, belum ada pemekaran Daerah Otonomi Baru yang berkaitan dengan Kota Madya,” tutup Mantan Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) itu. (Hardin CN)