Bitcoin Tertekan, Harga BTC Dekati Support Kritis 74.950 Dollar AS

JAKARTACN – Bitcoin (BTC) kembali berada dalam tekanan dalam beberapa hari terakhir. Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia itu bergerak melemah dan mendekati level support penting yang dinilai akan menentukan arah pergerakan selanjutnya.

Dikutip dari NewsBTC, Kamis (28/5/2026), Bitcoin sempat turun ke bawah level 75.500 dollar AS dan terus bergerak di zona merah seiring meningkatnya tekanan jual di pasar kripto global.

Sejumlah analis menilai, jika level support utama gagal dipertahankan, pelemahan harga Bitcoin berpotensi berlanjut lebih dalam.

Di tengah tekanan tersebut, perhatian investor global justru mulai beralih ke saham-saham teknologi, khususnya perusahaan produsen chip memori berbasis kecerdasan buatan (AI). Perpindahan aliran modal ke sektor teknologi disebut ikut memengaruhi minat investor terhadap aset kripto, termasuk Bitcoin.

Saham Teknologi Naik, Kripto Kehilangan Momentum

CoinDesk melaporkan, Bitcoin masih berada di bawah tekanan ketika saham perusahaan semikonduktor Korea Selatan, SK Hynix, melonjak hingga menembus valuasi 1 triliun dollar AS.

Sebelumnya, Micron Technology juga mencapai kapitalisasi pasar serupa setelah sahamnya naik lebih dari 20 persen.

Lonjakan saham produsen chip memori menarik perhatian investor global, sementara pasar kripto justru bergerak stagnan dan kehilangan momentum.

Situasi ini terjadi ketika Bitcoin gagal mempertahankan area harga di atas 76.000 dollar AS. Tekanan jual yang terus berlanjut membuat harga BTC turun dan mendekati area support krusial di kisaran 74.000 hingga 75.000 dollar AS.

NewsBTC menyebut Bitcoin memulai penurunan baru setelah bergerak di bawah zona 75.500 dollar AS. BTC juga diperdagangkan di bawah rata-rata pergerakan sederhana 100 jam yang mengindikasikan tren jangka pendek masih bearish.

Tidak hanya Bitcoin, sejumlah aset kripto utama lainnya seperti Solana dan XRP juga mengalami pelemahan seiring meningkatnya aksi jual di pasar.

CoinDesk bahkan mencatat posisi long kripto senilai 500 juta dollar AS mengalami likuidasi ketika Bitcoin turun ke area 78.000 dollar AS pada pertengahan Mei 2026.

Level 74.950 Dollar AS Jadi Penentu

Coinpedia menyebut level 74.950 dollar AS menjadi area penting yang wajib dipertahankan pelaku pasar. Jika level tersebut gagal dijaga, risiko penurunan lebih dalam dinilai semakin terbuka.

Posisi Bitcoin saat ini berada tepat di atas area support utama yang sebelumnya terbentuk pada April 2024. Kondisi itu membuat pasar sangat sensitif terhadap tekanan jual tambahan.

Para bullish atau investor yang masih optimistis terhadap kenaikan harga harus mampu mempertahankan area 74.950 dollar AS agar potensi koreksi lebih dalam dapat dihindari.

Jika support tersebut jebol, harga Bitcoin berisiko turun menuju level yang lebih rendah.

Sementara itu, NewsBTC menilai Bitcoin kini menghadapi area resistensi di kisaran 75.500 hingga 76.200 dollar AS. Selama harga belum mampu kembali menembus area tersebut, tekanan bearish dinilai masih dominan.

Analis juga memperhatikan pola teknikal jangka pendek yang menunjukkan kecenderungan pelemahan lanjutan. Bitcoin disebut gagal bertahan di atas 76.000 dollar AS dan terus mencatat lower high dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.

Sepanjang reli Mei 2026, Bitcoin sempat bergerak di kisaran 76.300 hingga 82.500 dollar AS. Namun aset tersebut gagal menembus area resistance penting meski beberapa kali mencoba breakout.

Ketegangan Geopolitik dan The Fed Jadi Sorotan

Selain faktor teknikal, pasar kripto juga dibayangi ketidakpastian geopolitik global. Beberapa laporan menyebut meningkatnya tensi di Timur Tengah turut memicu aksi risk-off investor terhadap aset berisiko seperti kripto.

Bitcoin bahkan sempat menyentuh area 73.000 dollar AS ketika pasar global dihantam kekhawatiran terhadap eskalasi konflik internasional.

Tekanan geopolitik juga memengaruhi sentimen investor ritel. Bitcoin mengalami tekanan signifikan dan turun ke level terendah dalam lebih dari enam pekan terakhir di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global.

Di sisi lain, arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) juga masih menjadi perhatian utama pasar.

CoinDesk sebelumnya melaporkan Bitcoin cenderung bergerak mendatar di kisaran 77.000 dollar AS menjelang pergantian kepemimpinan di The Fed.

Pasar kini menunggu arah kebijakan moneter berikutnya setelah Kevin Warsh resmi dilantik menjadi Ketua The Fed.

Dalam pidatonya, Warsh mengatakan akan memimpin The Fed dengan pendekatan reformasi dan pembelajaran dari kesalahan masa lalu.

Meski demikian, ketidakpastian mengenai arah suku bunga masih membuat investor berhati-hati terhadap aset berisiko.

Dalam jangka pendek, perhatian pasar kini tertuju pada kemampuan Bitcoin mempertahankan area support di bawah 75.000 dollar AS yang disebut akan menjadi penentu apakah BTC mampu rebound atau justru melanjutkan tren penurunan lebih dalam. (Hardin CN)

Bitcoin Tertekan, Sempat Jatuh di Bawah US$77.000 Akibat Geopolitik dan Tekanan Makro

WASHINGTON, CN – Bitcoin (BTC), aset kripto terbesar di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar, kembali mengalami tekanan dan sempat turun di bawah level US$77.000 pada perdagangan sesi Asia. Pelemahan ini dipicu kombinasi kenaikan harga minyak dunia serta meningkatnya imbal hasil obligasi Treasury Amerika Serikat yang mengurangi minat investor terhadap aset berisiko, termasuk kripto.

Berdasarkan data CoinGecko pada Senin (18/5/2026), harga Bitcoin bergerak dari kisaran US$78.500 hingga menyentuh level terendah harian di US$76.696. Dalam 24 jam terakhir, BTC tercatat melemah sekitar 1,4 persen.

Penurunan harga tersebut turut diikuti melemahnya aktivitas perdagangan. Volume transaksi harian Bitcoin turun sekitar 7 persen menjadi US$24,2 miliar, sementara kapitalisasi pasar menyusut ke level US$1,53 triliun.

Kondisi ini mencerminkan pelemahan signifikan, mengingat harga Bitcoin kini berada sekitar 39 persen di bawah rekor tertinggi sepanjang masa di level US$126.000 yang tercatat pada Oktober 2025.

Aset kripto utama lainnya juga bergerak di zona merah. Ethereum (ETH) turun lebih dari 3 persen ke level US$2.100. Sementara itu, BNB dan XRP masing-masing melemah sekitar 1 persen, sedangkan Solana turun sekitar 2 persen. Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto global turun sekitar 1,5 persen menjadi US$2,56 triliun.

Geopolitik dan Tekanan Makro Picu Sentimen Risk-Off

Tekanan jual mulai meningkat setelah Bitcoin sebelumnya sempat bergerak di kisaran US$82.000, didorong arus masuk ke produk exchange-traded fund (ETF) spot dan optimisme terhadap perkembangan regulasi kripto di Amerika Serikat.

Namun, sentimen pasar berubah cepat setelah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS, Donald Trump, melalui platform Truth Social mengeluarkan peringatan terkait potensi aksi militer apabila kesepakatan damai tidak menunjukkan kemajuan. Situasi tersebut memicu risk-off sentiment di pasar global, di mana investor cenderung menghindari aset berisiko.

Di sisi lain, harga minyak dunia turut melonjak. Minyak Brent naik sekitar 1,78 persen ke level US$111,2 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,2 persen menjadi US$107,7 per barel.

Kenaikan harga energi memunculkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi yang lebih persisten. Kondisi ini berpotensi mendorong Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang pengetatan kebijakan lanjutan.

Tekanan juga terlihat di pasar obligasi. Imbal hasil Treasury AS naik ke level tertinggi dalam 12 bulan terakhir, meningkatkan daya tarik aset berpendapatan tetap sekaligus mengurangi minat terhadap aset tanpa imbal hasil seperti Bitcoin.

Kombinasi faktor tersebut membuat pasar kripto kembali memasuki fase risk aversion. Indeks Fear & Greed kripto juga turun ke level 28, mendekati zona ketakutan, dari posisi netral di kisaran 40–50 pada pekan sebelumnya.

Arus ETF Berbalik, Investor Institusional Mulai Mengurangi Risiko

Dari sisi institusional, tekanan pasar turut tercermin pada arus dana ETF. Data SoSoValue mencatat ETF Bitcoin spot mengalami arus keluar bersih sekitar US$1 miliar dalam sepekan hingga 17 Mei 2026. Kondisi ini mengakhiri tren enam pekan berturut-turut arus masuk dana.

Perubahan tersebut menunjukkan investor institusional mulai mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di tengah meningkatnya ketidakpastian makroekonomi global.

Mengutip CoinDesk, Presto Research menilai perubahan arus dana ini mencerminkan strategi portfolio rotation menuju aset yang lebih defensif, seiring ekspektasi penurunan suku bunga yang semakin tertunda.

Meski demikian, sebagian analis menilai koreksi saat ini masih tergolong wajar dalam tren jangka panjang yang lebih besar. Fokus pasar kini tertuju pada data inflasi Amerika Serikat, pergerakan imbal hasil obligasi, serta perkembangan regulasi kripto seperti RUU struktur pasar kripto CLARITY Act yang dinilai berpotensi menjadi katalis positif berikutnya.

Walaupun volatilitas diperkirakan masih tinggi, sejumlah analis tetap melihat prospek jangka menengah Bitcoin cukup konstruktif. Area US$74.000 disebut sebagai level support penting yang perlu diperhatikan apabila tekanan pasar berlanjut.

Ke depan, pergerakan Bitcoin diperkirakan masih dipengaruhi dua kekuatan utama, yakni tekanan makro global yang cenderung menekan aset berisiko serta fundamental on-chain dan adopsi institusional yang dinilai masih cukup kuat. Pasar juga diperkirakan tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan data inflasi dalam beberapa hari mendatang. (Hardin CN)